Korea Selatan » Tradisi dan Budaya

Kuliner Vihara Sebagai Tren Budaya Korea

Selasa, 17 Juli 2012

Buddhisme di Korea SelatanBhagavant.com,
Seoul, Korea Selatan – Kuliner vihara di Korea menjadi salah satu tren kebudayaan Korea selain K-pop (musik pop Korea), K-drama (drama Korea), dan K-movie (film Korea) yang populer terlebih dulu di beberapa negara Asia termasuk Indonesia.

Seperti yang dilaporkan oleh The Korea Times (10/7), kuliner atau masakan dari vihara (baca: wihara – ed) kini menjadi lebih populer di kalangan para pecinta makanan sehat baik di Korea maupun di luar negeri.

Sebagai cerminan akan tren ini, bulan lalu kelompok Sangha terbesar di Korea mengunjungi New York dengan membawa tema mengenai kuliner vihara. Mereka melakukan promosi pengenalan dan meningkatkan kesadaran mengenai kuliner vihara selama dua minggu. Kegiatan tersebut juga diikuti dengan memperkenalkan program templestay (singgah atau tinggal di vihara).

Insam Yachaemari (Ginseng-Vegetable Roll)
Insam Yachaemari (Ginseng-Vegetable Roll), salah satu makanan vihara. Foto: koreantemplefood.com

Korps Kebudayaan Buddhisme Korea yang berada di bawah naungan Sangha Jogye, berusaha memoderenisasi resep-resep kuliner vihara dan membuatnya dapat terjangkau oleh masyarakat baik di dalam maupun di luar negeri.

“Praktik memakan makanan vihara mencerminkan beberapa nilai penting, seperti keindahan dalam melakukan sesuatu secara perlahan dan berbagi dengan orang lain,” kata Bhiksu Beopjin dalam wawancaranya dengan The Korea Times dua minggu lalu. “Masyarakat New York bersemangat untuk belajar mengenai program tinggal di vihara dan kuliner vihara.”

Makanan vihara yang mengacu pada apa yang dimakan oleh para bhiksu dan para pengunjung di vihara, pada dasarnya merupakan makanan vegetarian dan dihidangkan dengan bahan-bahan alami tanpa bumbu buatan. Di vihara-vihara di Korea, makan merupakan salah satu bagian dari disiplin meditasi.

Grup-grup kecil terdiri dari 20-50 orang, mulai dari para koki, spesialis makanan, media sampai para konsultan industri perjalanan diundang ke Astor Center di Manhattan untuk mencicipi beragam hidangan makanan vihara Korea untuk acara makan siang dan makan malam selama tiga hari.

Pada kesempatan itu, para konsultan perjalanan menerima pengenalan rinci mengenai program templestay yang tersedia di lebih dari 100 vihara di Korea. Para spesialis makanan memiliki kesempatan untuk mencicipi kecap Korea dan pasta kedelai fermentasi yang dibuat menggunakan cara tradisional di vihara-vihara.

“Pada masa mendatang, kami akan menerbitkan buku resep dan mengembangkan materi promosi mengenai makanan vihara, sekaligus memperluas kesempatan bagi masyarakat umum untuk datang ke vihara-vihara dan membuat kuliner untuk diri mereka sendiri,” jelas Bhiksu Beopjin.

Meskipun kuliner vihara Korea bersifat vegetarian yang melarang penggunaan daging dan ikan, pada praktiknya lebih mendekati bersifat vegan karena juga tidak menggunakan telur dan produk susu digunakan secukupnya. Lima sayuran berbau menyengat antara lain: lokio, kucai, bawang putih, bawang merah, dan daun bawang juga dilarang karena menyebabkan timbulnya kendala dalam praktik spiritual. Begitu juga rempah-rempah yang menyengat juga dihindari.

Tahun 2012 ini merupakan peringatan 10 tahun berjalannya program templestay, program yang membuat lebih banyak lagi masyarakat menjadi akrab dengan Buddhisme Korea termasuk non-Buddhis dan para warga asing.

Program-program yang ada melingkupi makanan resmi keviharaan yang terbuat dari hidangan vegetarian yang sehat, upacara minum teh, lantunan (chanting) pagi dan sore hari, serta meditasi Zen (Seon). Perjamuan makan komunitas Buddhis atau “balwoo gongyang” merupakan sebuah cara makan yang unik di vihara-vihara di Korea, yaitu saat makanan dimakan dalam keheningan total dan tidak sebutir nasi yang tersisa dan terbuang.

Sejak program ini dilaksanakan 10 tahun yang lalu, kini telah menjadi salah satu aktivitas turis yang paling terkenal di Korea.

“Popularitas dari program ini di antara masyarakat Korea dan warga asing muncul dari alasan yang berbeda,” kata Bhiksu Beopjin. “Sebuah survei baru-baru ini menunjukkan bahwa masyarakat Korea sangat tertarik dengan templestay ini karena untuk relaksasi. Untuk warga asing mereka sangat tertarik kerena mereka ingin belajar lebih banyak lagi mengenai kebudayaan tradisional Korea dan kebudayaan Buddhis.”

Sangha Jogye telah mencoba untuk membuat program templestay menjadi lebih menarik lagi bagi peserta non-Korea. Sangha telah menunjuk 15 vihara yang mengkhususkan diri templestay khusus untuk para warga asing, dimana mereka memiliki para penerjemah profesional. Ada tiga vihara di Seoul yang mengadakan program templestay tersebut, di antaranya: Vihara Geumseon, Vihara Myogak dan Vihara Bongeun.[Bhagavant, 17/7/12, Sum]

Kata kunci:
Penulis: