Asia Selatan » Nepal » Tokoh

Kisah Bhikku Pembangkit Theravada di Nepal

Rabu, 11 April 2012

Buddhisme di NepalEkantipur.com,
Kathmandu, Nepal – Suatu masa di Nepal, adalah hal yang ilegal untuk menjadi seorang bhikkhu. Anda dapat dimasukkan ke dalam penjara atau diasingkan ke luar negeri. Bhikkhu Kumar Kashyap (Kumarakasyapa Mahathera – ed) adalah seseorang di antara sekelompok bhikkhu yang dibuang pada tahun 1944.

Saat beliau wafat 26 Februari 2012 lalu, sepenggal sejarah mati bersamanya. Beliau adalah bhikkhu terakhir yang bertahan di antara delapan orang bhikkhu yang ditugaskan bergerak untuk menyebarkan sebuah “agama baru”.

Y.M. Kumarakasyapa Mahathera
Y.M. Kumarakasyapa Mahathera. Foto: theravadanepal.net

Agama baru tersebut adalah Buddhisme Theravada. Ini merupakan kemunculan kembali Buddhisme Theravada di Nepal setelah mati beberapa abad yang lalu. Pemandangan asing dari para bhikkhu berjubah kuning khas Thailand dan Sri Lanka membuat masyarakat terpesona, tetapi menggetarkan para penguasa autokrasi yang beraksi dengan amarahnya yang khas. Mereka menangkap para bhikkhu tersebut dan mengumpulkan mereka di luar Kathmandu. Para tentara menggiring mereka saat mereka mendaki melewati perbukitan daerah selatan, hanya kembali setelah memastikan bahwa para bhikkhu tersebut telah mengambil jalur ke India.

Kumar Kashyap berusia delapan belas tahun merupakan yang termuda di antara para bhikkhu yang diasingkan. Lahir dengan nama Asta Man Shakya di Tansen, Palpa, Nepal, beliau mengambil nama Kumar Kashyap setelah menjadi seorang samanera. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Bhante Kumar. Setelah menerima pabbajja (penahbisan untuk para samanera – ed) pada tahun 1942, beliau datang ke Kathmandu untuk bergabung dengan para bhikkhu yang bekerja untuk menghidupkan kembali keyakinan Theravada di bawah tatapan waspada pemerintah.

Tahun 1940-an merupakan masa yang menarik di Nepal. Gerakan anti-Rana (Dinasti Rana, 1846 s.d 1953 – ed) sedang dalam keadaan ramai, dan empat aktivis demokrasi telah dieksekusi. Buddhisme Theravada baru saja muncul kembali, membawa serta angin segar ke dalam sebuah tradisi yang semakin terkubur dalam ritual esoteris (bersifat rahasia – ed). Untuk memberikan sebuah gambaran sederhana dari tiga cabang Buddhisme, Theravada adalah tradisi yang dapat dilihat di Sri Lanka, Birma dan Thailand. Para bhikkhunya mengenakan jubah kuning. Kedua adalah Mahayana yang dapat dijumpai di Bhutan. Ketiga adalah Vajrayana yang dipraktikkan di Lembah Kathmandu.

Kebangkitan Buddhisme Theravada terjadi bersamaan dengan perjuangan demokrasi dan kedua gerakan tersebut saling mendukung. Masyarakat berjajar di pinggir jalan untuk menatap kagum para bhikkhu dalam jubah kuning saat mereka melakukan pindapata (mengumpulkan dana makanan – ed). Para bhikkhu tersebut mengajar dengan cara yang mudah dipahami, tidak ada ritual-ritual rumit dalam dasar praktik keagamaan mereka, dan kotbah-kotbah mereka menarik semakin banyak orang.

Para penguasa yang ada, yang curiga terhadap apapun yang melibatkan berkumpulnya orang-orang, merasa ketakutan. Para bhikkhu tersebut dipanggil ke Singha Durbar dan berbaris di hadapan perdana menteri. Mereka diminta untuk menandatangani sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa mereka tidak akan mengajarkan Buddhisme, menulis buku dalam bahasa Nepal, atau menahbiskan para wanita sebagai viharawati. Para bhikkhu tersebut tentunya menolak, dan dengan sewenang-wenang mereka diperintahkan untuk keluar dari kota dalam waktu tiga hari. Dan para bhikku pun pergi, para pengikut mereka yang menangis menyertai mereka hingga di tepi Lembah. Karena tidak ada jalan raya yang terhubung antara Kathmandu dan dunia luar, maka berjalan adalah satu-satunya cara untuk sampai ke mana saja.

Setelah menyeberang ke India, para bhikkhu tersebut berpencar ke arah yang berbeda-beda. Beberapa pergi ke Kushinagar, dan yang lainnya ke Kolkata dan Kalimpong. Pertama, Bhante Kumar pergi menuju ke Kalimpong dan kemudian berlayar ke Sri Lanka. Bagi orang darat dari sebuah kota bukit, negara pulau tersebut memberikan pencerahan dalam banyak cara. Beliau menerjunkan diri dalam studi Buddhisme, bebas dari rasa takut dari para penguasa yang terus mengincar dirinya. Namun, masa itu tidaklah mudah. Perang Dunia Ke-2 sedang terjadi, dan rakyat Sri Lanka sedang berjuang melawan pemerintah Inggris. Tapi Bhante Kumar memanfaatkan sebaik-baiknya kehidupan di pengasingannya. Beliau mempelajari bahasa Sinhala, dan menjadi seorang pakar kitab suci Tipitaka (Tipitaka acariya – ed).

Sebut saja karma, pengusiran para bhikku tersebut justru memberikan dampak yang sebaliknya dari apa yang rezim pemerintah maksudkan. Opini publik menentang para penguasa semakin kencang, dan Buddhisme Theravada mendapat lebih banyak pengikut. Kesusastraan mendapatkan sebuah penyegaran dengan para bhikkhu tersebut juga menjadi penulis yang produktif. Dorongan untuk melakukan perjalanan juga menjadikan para bhikku tersebut sorotan internasional dan pemberitaan buruk bagi pemerintah Nepal.

Buddhis di Sri Lanka merupakan simpatisan mereka yang terbesar. Pada tahun 1946, dengan niat baik mereka mengirim sebuah misi ke Nepal dan memohon kepada perdana menteri Nepal untuk mengizinkan para bhikku tersebut untuk kembali. Akhirnya para pria berjubah kuning tersebut datang kembali setelah menghabiskan dua tahun di luar negeri. Buddhisme Theravada menetap di Nepal. Bhante Kumar kembali ke Kathmandu dari Sri lanka dan menulis buku selain mengajar di Vihara Kuti Ananda (Ananda Kuti Vihar) di Swayambhu. Selanjutnya beliau menjadi kepala Vihara Kuti Ananda. Beliau adalah Wakil Ketua Bhikku saat beliau wafat pada usia 85 tahun.[The monks in yellow robes, Kamar Ratna Tuladhar, 7/4/12, ed.: Bhagavant, 11/4/12, tr: Sum]

Kata kunci: ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN: