Asia Tenggara » Kamboja » Lingkungan Hidup

Tanggulangi Perubahan Iklim dengan Buddhisme

Selasa, 6 September 2011

Buddhisme dan Lingkungan HidupBhagavant.com,
Samraong, Kamboja – Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, salah satu penyebab polusi rumah kaca yang berkaitan dengan perubahan iklim adalah maraknya penebangan hutan yang merupakan paru-paru bumi.

Berbeda dengan kelompok yang mengedepankan sains, sekelompok bhikkhu dari pedalaman Kamboja melindungi hutan setempat mereka dan menanggulangi perubahan iklim dengan berinspirasi pada Buddhisme.

Dengan mengenakan jubah jingganya, Bhikkhu Tha Soun menapaki jalan hutan di Kamboja Utara. Ia dan rekan sesama bhikkhu dari Vihara Samraong terdekat telah menjaga hutan yang dikenal dengan nama Sorng Rukavorn atau Hutan Bhikkhu seluas 44 ribu hektar tersebut selama satu dekade.

Setiap hari nampaknya hutan tersebut bagaikan sebuah tanam yang tenang, namun tidaklah selamanya seperti itu.

Bhikkhu Tha mengatakan bahwa belum lama ini, polisi dan tentara datang kesini untuk merambah kayu.

“Saya akan menasihatkan mereka untuk menghentikannya jika saya pikir mereka mau mendengarkan,” kata Bhikkhu Tha seperti yang dilaporkan oleh reporter Brendan Brady yang dilansir The World.

“Tapi jika mereka tidak mau mendengarkan, saya hanya akan mengambil gergaki dan senjata mereka,” lanjut Bhikkhu Tha.

Bhikkhu Tha mengatakan bahwa ia dan anggota lainnya dari komunitas Buddhis telah berhasil menjaga hutan tersebut karena mereka adalah tokoh-tokoh spititual yang dihormati. Namun secara pasti pengalamannya sebelum ia menjadi seorang bhikkhu juga membantu.

“Para tentara tidak menakutkan bagi saya, karena dulu saya juga adalah seorang tentara,” kata Bhikkhu Tha.

Kebulatan tekad ini membantu melestarikan hutan yang digunakan baik oleh para bhikkhu dan masyarakat setempat. Sekarang, usaha tersebut juga menguntungkan bagi negara Kamboja.

Hutan Bhikkhu merupakan salah satu dari 13 kelompok hutan yang memiliki luas lebih dari 250 mil persegi di propinsi Oddar Meanchey yang nilainya dalam menanggulangi perubahan iklim sedang dipasarkan dalam sebuah pertukaran internasional yang disebut dengan pencegahan deforestasi kredit karbon. Dengan kata lain, secara mendasar ini berarti dengan tidak menebang pohon-pohon mereka, Kamboja akan mendapatkan bayaran dari pihak luar.

Pasar kredit tersebut berdasarkan pada fakta bahwa hutan-hutan menyerap sejumlah besar karbondioksida yang memerangkap panas. Usaha tersebut berarti membantu mengurangi tingkat kadar CO2 dengan cara menjaga lahan hutan sebanyak mungkin.

Bhikkhu Tha mengakui bahwa ilmu iklim merupakan hal yang baru bagi para bhikkhu di sini, namun ia memahami bahwa dengan perubahan iklim banyak mempengaruhi negaranya, karena kebanyakan orang di sini bertahan hidup dari alam.

Dan Bhikkhu Tha mengatakan bahwa melestarikan hutan akan selalu menjadi hal yang penting dalam tradisi Buddhisme.

“Sang Buddha lahir, mencapai pencerahan dan mangkat di bawah pohon,” kata Bhikkhu Tha.

Seperti halnya Sang Buddha, Bhikkhu Tha meluangkan banyak waktunya dalam kinerja kesehariannya di bawah naungan hutan.

Namun vihara-vihara alami seperti itu menjadi lebih sukar untuk ditemui di Kamboja. Lebih dari seperlima dari hutan-hutan di negara tersebut telah dirambah selama lebih dari dua puluh tahun terakhir.

Dewasa ini, penebangan berskala besar telah berkurang namun penjualan kayu besar terus berlanjut, bahkan di kawasan lindung. Bhikkhu Tha mengatakan bahwa saat hal itu terjadi, masyarakat setempat tidak dapat lagi mengambil keuntungan apapun dari hutan tersebut.

Di lain sisi, di sini di Hutan Bhikkhu, penduduk setempat masih mendapatkan hasil hutan tersebut. Dan mereka juga membantu mengawasi dan menjaga hutan tersebut.

Choun Chun, 34, seorang sukarelawan mengatakan bahwa para bhikkhu telah mengajarkan kepadanya mengenai nilai dari konservasi.

“Saat saya masih muda, saya tergoda untuk menebang pohon-pohon untuk keuntungan,” kata Choun. “Tapi, lambat-laun, saya menyadari bahwa hutan itu penting untuk masyarakat kita, jika kita menebang pohon-pohon tersebut, kita menghancurkan diri kita sendiri.”

Kerusakan telah menyebar luas di daerah tersebut dalam beberapa dekade terakhir. Propinsi Oddar Meanchey merupakan tempat persembunyian sisa-sisa rezim pembunuh Khmer Merah selama hampir 20 tahun setelah mereka digulingkan pada pertengahan tahun 1970. Pada tahun-tahun tersebut mereka membiayai pemberontakan mereka dengan menjual kayu di dekat Thailand.

Saat ini, kawasan tersebut tetap miskin dan terpencil, ini menggoda bagi pembalakan liar. Kesepakaan kredit karbon dimaksudkan untuk mengatasi hal ini dengan intinya menawarkan sebuah imbalan untuk menjaga hutan tersebut. Dengan sebuah perkiraan, kredit untuk seluruh 13 hutan dapat bernilai seharga dengan 50 juta dolar AS selama lebih dari 30 tahun.

Namun proses kredit karbon tersebut sebagian besar belum teruji, dan para kritikus khawatir hal tersebut rentan terhadap korupsi. Kuy Thourn, seorang kepala desa di desa dekat Hutan Bhikkhu, mengatakan bahwa ia tidak yakin masyarakatnya akan pernah melihat manfaat apapun dari hal itu.

Thourn mengatakan bahwa uang yang dihasilkan mungkin akan diterima oleh masyarakat, atau juga mungkin akan jatuh ke tangan para pejabat korup. “Kita harus mencari tahu,” katanya.

Baru-baru ini seorang perwakilan pemerintah mengunjungi kawasan tersebut untuk meyakini para penduduk desa bahwa mereka akan mendapatkan manfaat dari kesepakatan tersebut. Namun keraguan menjalar, dan Bhikkhu Tha Soun mengkhawatirkan bahwa akan sulit untuk meyakinkan beberapa masyarakat Kamboja mengenai pentingnya menjaga hutan-hutan mereka. Namun ia mengatakan bahwa apapun yang terjadi, ia tetap pada komitmennya.

“Saya memutuskan menjadi seorang bhikkhu karena kami masyarakat Kamboja percaya bahwa ini adalah tugas dari beberapa anak lelaki untuk menjaga agama tetap hidup dan membersihkan perbuatan-perbuatan buruk dari orang tua kami,” kata Bhikkhu Tha.

Bagi Bhikkhu Tha, perbuatan-perbuatan buruk tersebut termasuk perlakuan salah terhadap hutan oleh generasi sebelumnya. Ia mengatakan bahwa ia bertekad untuk membantu menyelamatkan Sorng Rukavorn, dan sebanyak mungkin lahan hutan di Kamboja Utara semampunya, untuk penggunaan yang berkelanjutan dan perenungan spiritual.

Pada tahun 2010 lalu, komunitas Bhikkhu Masyarakat Kehutanan (Monks Community Forestry – MCF) di wilayah Samraong, propinsi Oddar Meanchey, yang dipimpin oleh Bhikkhu Bun Saluth mendapatkan penghargaan prestisius Equator Prize, atas usaha mereka melestarikan hutan.[Bhagavant,6/9/11, Sum]

Kata kunci:
Penulis: