Amerika » Amerika Serikat » Amerika Utara

Saat Gereja di Portland Berubah Jadi Cetiya

Rabu, 29 Juni 2011

Buddhisme di Amerika SerikatBhagavant.com,
Portland, AS
– Sebuah gereja tua di Portland, Oregon, Amerika Serikat berubah fungsi menjadi cetiya Zen setelah jumlah jemaatnya mengalami penyusutan.

Dengan lantai parket kayu dan ruangan yang masih beraroma cat segar, sebuah gereja yang telah menjadi tempat bagi tiga kelompok jemaat Kristiani selama 100 tahun, kini dalam kondisi perbaikan untuk digunakan oleh Komunitas Zen Oregon.

Kisahnya dimulai pada sekitar tahun 1891, ketika gereja kayu sederhana tersebut dibangun untuk anggota jemaat Kristen Methodis Episkopal. Pada tahun 1959, jemaat Methodis pindah dan digantikan oleh jemaat Kristen Ortodoks dari Ukraina dengan memasang salib berpalang tiga di menara gereja. Pada tahun 1968, bangunan tersebut menjadi Gereja Allah Yang Hidup, tempat jemaat Afrika Amerika yang berkembang untuk sementara waktu, menurut sejarah.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, keanggotaannya menyusut. Musim gugur yang lalu, dengan adanya hutang yang belum lunas terbayar gereja menghadapi penyitaan dan  dilelang di depan Pengadilan Wilayah Multnomah pada 15 Desember 2010, pukul 11 siang.

Komunitas Zen Oregon. Didirikan pada 1976, sebuah komunitas spiritual kecil yang mulai melakukan pelatihan meditasi di perumahan pribadi dan studio-studio yoga. Kemudian mereka menyewa ruang di Dharma Rain Zen Center dan di Gereja Episkopal St. David  dari Wales, yang keduanya terletak di Tenggara Portland. Waktu berselang, mereka membeli sebuah bekas sekolah dasar di Clatskanie yang diubah menjadi Vihara Great Vow (Great Vow Monastery). Namun dua tahun pencarian untuk tempat mereka di Portland jadi tertunda.

Cetiya Heart of Wisdom. Sbr foto: zendust.org
Cetiya Heart of Wisdom. Sbr foto: zendust.org

“Kami seperti tanaman dalam pot,” kata Patrick Green, ketua komunitas tersebut. “Kami bisa menjadi besar. Namun saat komunitas menjadi matang dan semakin banyak orang siap untuk mengajar, kami tidak memiliki tempat untuk melakukannya.”

Kemudian suatu malam di bulan Oktober, di akhir sesi meditasi, seseorang menyerahkan sebuah guntingan koran lusuh kepada Hogen Bays, salah satu pemimpin Komunitas Zen Oregon. Koran tersebut berisi pemberitahun kepada pubik mengenai properti Gereja Allah Yang Hidup dan pelelangannya. Bays dan beberapa anggota komunitas bertemu dengan pastor jemaat tersebut, Rev. Roy Maxie, dan mengunjungi gereja tersebut.

“Saat kami datang pertama kali ke tempat itu, semua nyanyian dan doa selama bertahun-tahun yang lalu memenuhi bangunan tersebut,” ingat Bays. “Semua yang berjalan menuju kapel mengatakan, ‘Ooh, ini terasa sangat baik.’ Ada praktik spiritual berusia 120 tahun yang meresap dalam dinding-dinding.”

Bays mengatakan bahwa ia memberikan penawaran kepada Pastor Maxie bahwa komunitas Buddhis bersedia membayar harga yang pantas untuk properti sebesar 205.000 dolar, sehingga pastor tersebut bisa membayar lunas hutang-hutang gereja tersebut dan sisa uangnya dapat digunakan untuk tugas pelayanan pastor itu selanjutnya. Ini merupakan penawaran yang sesuai dengan konsep karma – bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi dan perbuatan baik memiliki konsekuensi yang baik. Komunitas Zen dapat saja menunggu dari pelelangan dan mungkin saja menghabiskan uang yang lebih sedikit untuk mendapatkan properti itu, tetapi Bays tidak menginginkan keuntungan dari kelompok lain yang sedang mengalami kesulitan.

“Ada sesuatu hal yang perlu dikatakan, khususnya berhubungan dengan agama, mengenai memulai dengan bersih dan sehat,” kata Bays seperti yang dikisahkan oleh Nancy Haught di Oregonlive (25/6). “Jika kita mengambil keuntungan dari ketidakberuntungan seseorang, maka memiliki dampak tertentu.”

Penjualan berakhir pada Desember 2010, hanya beberapa minggu sebelum tanggal pelelangan. Komunitas Zen telah siap memutuskan terhadap apa yang akan mereka sebut sebagai cetiya baru.

“Kami berpikir panjang dan keras mengenai nama,” kata Bays. “Great Vow telah memiliki kata ‘Monastery’ (Vihara) pada namanya oleh karenanya kami tidak ingin menyimpang dan menjadi sebuah pusat retret. ‘Monastery‘ telah memiliki tujuan yang jelas.” Akhirnya, komunitas tersebut memilih untuk memadukan dua prinsip utama Buddhis.

Karena komunitas Zen tersebut menekankan pada kebijaksanaan namun ingin meninggalkan kesan dingin, maka diikutsertakan ide kehangatan, belas kasih dan keterjangkauan, yang merupakan intisari dari kehidupan spiritual yang sesungguhnya. Sehingga dipilihlah nama “Heart of Wisdom” (Hati Kebijaksanaan).

Komunitas Zen Oregon mengadakan upacara pemberkahan pada cetiya baru mereka pada Januari yang lalu dan mulai merenovasi gereja tua tersebut dengan mempertahankan penampilan luar sebagaimana bentuk aslinya, yaitu gereja.[Bhagavant, 29/6/11, Sum]

 

Kata kunci:
Penulis: