Asia Oseania » Asia Tenggara » Pendidikan » Thailand

Pelajaran Dari Kehidupan

Pendidikan BuddhisThe Bangkok Post,
Bangkok, Thailand – Banyaknya orang tua, yang tidak semuanya Buddhis, menyadari manfaat dari perhatian terhadap batin, sebuah pendekatan Buddhis pada pendidikan.

Di dalam sebuah masyarakat dimana kesuksesan diukur dengan istilah materi, kebanyakan orang tua berharap bahwa sistem pendidikan akan menyiapkan anak-anak mereka pada jalan yang menuju kemakmuran di masa depan.

Reputasi akademis sekolah, beragamnya penggunaan bahasa yang ditawarkan dan intensitas pelajaran bahasa Inggris merupakan faktor-faktor krusial yang dipertimbangkan oleh para orang tua di Thailand ketika memilih sebuah sekolah untuk anak-anak mereka.

Tapi semuanya mulai berubah. Belakangan, banyak orang memandang bahwa mengembangkan batin pada anak merupakan hal yang lebih penting dibandingkan hanya memberikan mereka pengetahuan akademis. Hasilnya, sekolah-sekolah alternatif, terutama rongrien withi pud atau sekolah-sekolah dengan pendekatan Buddhis, menjadi pembicaraan terpanas bagi para orang tua baru.

Sekarang, sekolah-sekolah dengan pendekatan Buddhis (sekolah Buddhis) yang mengikuti sistem pendidikan yang dulu dianggap ketinggalan jaman, sekarang menunggu untuk berkembang. ’Bunga-bunga Bersemi’, sebuah himne Dhamma yang diciptakan oleh seorang anagarini, Mae Chee Sansanee Sthirasuta yang biasa dinyanyikan di rongrien withi pud secara luas, menjadi lagu yang populer di antara anak-anak taman kanak-kanak. Selagi bertekad untuk menjalankan lima sila Pancasila Buddhis, duduk bermeditasi dan phae metta – menyebarkan belas kasih kepada semua makhluk di dunia – yang merupakan beberapa ritual rutin, meningkatkan jumlah performa anak-anak sekolah setiap paginya.

”Masalah-masalah sosial merupakan bukti yang jelas bahwa pengetahuan akademis tidaklah membantu seseorang ketika berhadapan dengan masalah-masalahnya,” kata Bupaswat Rachatatanun, pendiri dan pimpinan Thawsi, salah satu pelopor sekolah Buddhis. ”Dan mendapatkan jenjang pendidikan yang tinggi juga tidaklah menjamin untuk sebuah kehidupan yang bahagia.”

Bupaswat atau Khru Onn menjelaskan bahwa berita mengenai para pelajar universitas yang memutuskan untuk bunuh diri karena mereka tidak mendapatkan peringkat yang baik dan kasus-kasus para dokter yang membunuh isteri mereka membuat orang-orang mempertanyakan sistem pendidikan di negara ini.

”Tujuan dari pendidikan sekolah Buddhis adalah untuk mengembangkan akademis dan spiritual seseorang,” kata Bupaswat. ”Bagi kami, mengembangkan batin merupakan hal yang sama pentingnya dengan memberikan pendidikan akademis dan kami mempertimbangkan bahwa kehidupan manusia merupakan sebagai proses pembelajaran yang paling penting.”

Bupaswat mengamati bahwa cara para orang tua dalam mengasuh anak-anak mereka telah berubah secara dramatis dibanding dengan masa lalu. Para orang tua generasi terdahulu memberikan sedikit kesempatan kepada anak-anak mereka untuk mengekspresikan diri mereka, namun pada masa modern ini para orang tua melihat manfaat dari memberikan anak-anak mereka kesempatan yang lebih banyak.

”Sekarang para orang tua dapat membiarkan anak-anak mereka untuk mengekspresikan ide-ide dan kreativitas mereka,” katanya. ”Banyak orang tua yang mengasuh anak mereka sebagai teman-teman mereka dan khawatir untuk bertindak sebagai ayah dan ibu.Mereka memberikan anak-anak mereka banayk sekali kebebasan – mereka menyebutnya sebagai demokrasi.”

”Tapi saya pikir hal itu berbahaya karena meskipun di dalam sebuah demokrasi yang sesungguhnya Anda tidak bisa menggunakan hak-hak Anda dalam setiap situasi. Sebagai contoh, sebagai seorang karyawan, Anda tidak akan memiliki hal yang sama dengan atasan Anda. Dan hal ini penting untuk dipahami oleh anak-anak.”

”Pendidikan Buddhis bertujuan untuk menunjukkan anak-anak kepada dunia realitas dimana mereka harus menghormati hak-hak orang lain dan menjadi seorang teman yang baik (kallayanamitta). Mereka selalu diperbolehkan untuk mengekspresikan pendapat mereka, tetapi haruslah dilakukan dengan cara yang baik.”

”Di dunia Barat, menjadi kreatif mungkin berarti berpikir secara berbeda atau berpikir keluar dari ’kotak’, tetapi dalam Buddhisme kreatifitas juga harus bermoral dan dilakukan dalam cara-cara yang seimbang.”

Mengikuti ajaran Sang Buddha, kemoralan (sila), keseimbangan batin (samadhi) dan kebijaksnaan mendalam (panya), adalah tiga praktik utama yang digunakan dalam pendidikan Buddhis dalam rangka mencapai tingkat intelektual. Para siswa butuh untuk memahami bagaimana bertindak dan berbicara secara etis. Mereka juga belajar bagaimana untuk berpikir secara menyeluruh dan mampu untuk menguji diri mereka sendiri dan dapat menangani berbagai situasi dengan baik.

”Beberapa orang berpikir bahwa mereka butuh mendirikan sebuah pondasi akademis bagi anak-anak mereka yang dimulai dari taman kanak-kanak sehingga anak-anak mereka bisa masuk ke universitas utama dan segera mendapatkan pekerjaan yang berpenghasilan baik. Ide tersebut bisa berhasil, bisa juga tidak,” demikian kata Vitoon Sila-On, wakil presiden S&P Syndicate Plc.

”Dalam pandangan saya, kita biasanya hanya belajar sesuatu karena kita melihat kemungkinan bahwa kita perlu menggunakan pengetahuan tersebut dikemudian hari. Tetapi 80 persen dari apa yang orang-orang pelajari dari sekolah tidaklah benar-benar bermanfaat di kehidupan sesungguhnya,” kata Vitoon. ”Di sisi lain, batin kita merupakan sesuatu yang kita gunakan setiap saat. Namun pembelajaran batin atau pikiran belum ditemukan pada kurikulum sekolah manapun.”

Vitoon adalah seorang ayah dari tiga anak yang semuanya bersekolah di sekolah Buddhis. Dididik di Inggris, Vitoon mengakui bahwa ia bukanlah seseorang yang berorinetasi pada Buddhis maupun yang sering ke vihara. Tetapi ia mengagumi pendidikan dengan metode-metode dari Guru Buddha.

”Bahkan orang-orang Barat telah tertarik dengan ajaran Sang Buddha karena mereka menyadari pentingnya pikiran,” kata Vitoon. ”Pendidikan Buddhis mengajarkan Anda bagaimana untuk memahami dan menguasai pikiran Anda, dimana banyak orang melewatkannya. Anak-anak butuh untuk memahami diri mereka sendiri terlebih dulu dan mengetahui bagaimana untuk mengatasi emosi mereka sendiri sebelum mereka dapat memahami orang lain. Semua hal ini haruslah ada ketika mereka muda sedangkan hal-hal akademis dapat dipelajari kemudian di waktu kapan pun.”

Pendidikan Buddhis bukanlah sistem yang menjemukan atau suram yang diperkenalkan oleh para bhikkhu atau bhikkhuni.

”Meskipun metode pendidikan ini berasal lebih dari 2000 tahun yang lalu, metode ini tetap memiliki efektifitas yang tinggi pada masa sekarang,” kata Patchana Mahapan , Kepala Pimpinan Pengembangan Pendidikan Holistik sekolah Thawsi.

”Banyak orang beranggapan bahwa pendidikan Buddhis hanyalah mengenai penguncaran sutta, meditasi dan dern chong krom atau berjalan-jalan. Beberapa bahkan mungkin berpikir bahwa siswa-siswa kami belajar bahasa Pali sedangkan anak-anak di sekolah lain belajar bahasa Inggris dan komputer. Tetapi semua itu hanyalah prasangka buruk,” kata Patchana.

Ia menambahkan bahwa prinsip inti dari pendidikan Buddhis adalah untuk memahami baik eksternal (kehidupan dan ilmu pengetahuan) dan internal (pikiran manusia). Dan karena seperti pepatah Thai, ”Tidak ada pengetahuan yang sepenting mengetahui pikiranmu sendiri”, pendidikan Buddhis akan menjadikan para pelajar orang-orang yang lebih cerdas dan up-to-date (tidak ketinggalan jaman).

Belajar dari pengalaman

Belajar di luar kelas adalah salah satu karakteristik kunci dari pendidikan Buddhis. Sebagai ganti dari duduk di kelas dengan buku-buku teks, atau berada di sebuah laboratorium dengan tabung-tabung tes, para siswa pergi ke sawah untuk menanam padi dengan sesungguhnya. Sebagian orang mungkin berpikir pendekatan seperti itu adalah sebuah kerancuan dan bukanlah belajar yang sesungguhnya, dan menanam padi adalah hal yang kuno di era digital ini.

”Apakah kita ingin memiliki nasi untuk di makan di masa depan? Apakah kita bisa memakan Internet sebagai gantinya? Tentu saja tidak,” kata Assoc. Prof. Prapapat Niyom, pendiri dan direktur Roong Aroon, sekolah Buddhis terkemuka lainnya.

”Padi adalah sumber makanan kita yang paling penting dan kita tidak dapat hidup tanpanya. Mengetahui bagaimana menanam padi tidak akan pernah ketinggalan jaman selama orang memakan nasi.”

”Menanam padi merupakan hal multi-disiplin bagi para siswa, membantu mereka untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan, bahasa, biologi, geologi, geografi, dan sosial budaya. Menanam padi bukanlah aktivitas pilihan hanya untuk kesenangan semata tetapi sebuah proses belajar yang penting yang juga menciptakan pikiran yang sadar.”

Bupaswat dari sekolah Thawsi juga memberi catatan bahwa mungkin terdapat beberapa kesalahpahaman mengenai pendidikan Buddhis. ”Ada beberapa orang yang berpikir bahwa pendidikan Buddhis hanyalah mengenai bermain dan melakukan perjalanan. Tetapi sebenarnya adalah dalam sekolah Buddhis kami memastikan bahwa pendidikan tidaklah hanya terjadi di dalam kelas tetapi dimana saja dan kapan saja. Jadi anak-anak akan memiliki banyak pengetahuan akan kehidupan yang sesungguhnya. Anak-anak merasa tertarik dengan alam dan selalu ingin mempelajarinya.”

”Sebagai seorang anak, kita belajar mengenai alam – bumi, air, tanaman – dari buku-buku teks,” tambah Patchana dari sekolah Thawsi. ”Kita belajar mengenai sumber alam seperti minyak dan berpikir sumber alam tersebut adalah hal tidak berhubungan dan tidak akan pernah habis. Dan sekarang kita mengalami kekurangan bahan bakar.”

”Dalam sekolah Buddhis kami mengajarkan para siswa untuk melihat segalanya secara keseluruhan dan untuk menyadari bahwa mereka adalah bagian dari alam, jadi hal kecil sekalipun yang mereka lakukan akan memiliki dampak terhadap alam semesta.”

Agar diterima

Seperti halnya banyak sekolah-sekolah utama ternama, agar diterima oleh sekolah Buddhis tidaklah mudah. Bagi para orang tua yang berharap untuk bergabung dengan sekolah-sekolah yang bereputasi tinggi, mereka mungkin harus mempersiapkan secara serius anak-anak mereka untuk mengikuti ujian masuk atau menghitung biaya yang di ”donasikan” ke sekolah-sekolah tersebut. Namun, bagi mereka yang tertarik menjadi bagian dari sekolah Buddhis harus menghadapi tantangan lainnya yang berbeda.

”Setiap tahun ada sejumlah orang tua yang tertarik dalam pendekatan kami dan menginginkan agar anak-anak mereka dapat belajar di sekolah kami yang hanya dapat menerima 75 orang siswa,” kata Prapapat dari sekolah Roong Aroon.

”Jadi sebagai ganti duduk untuk mewawancarai, kami mengadakan dua hari workshop dimana para orang tua beserta anak mereka dapat bergabung di dalam aktivitas yang beragam termasuk seminar-seminar, olahraga dan memasak. Dengan cara itulah kami mengamati bagaimana para orang tua dan anak saling berkomunikasi dan berinteraksi.”

Di sekolah Thawsi, selama satu jam, pertemuan satu-satu antara para orang tua dan para guru membantu sekolah ini untuk memastikan bahwa mereka cocok satu sama yang lain. Tidak ada tes atau ujian. Untuk disetujui oleh sekolah ini hanya tergantung pada wawancara dengan para orang tua, dan dalam banyak kasus tanpa melibatkan si anak karena pihak sekolah yakin bahwa orang tua tersebut merupakan orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan anak tersebut.

Jadi jenis keluarga, orang tua yang seperti apa sebenarnya yang sesuai atau tidak dengan sistem? Apakah mereka harus menjadi Buddhis?

Menurut Bupaswat dan Prapapat, Anda tidaklah harus menjadi Buddhis untuk bergabung dalam sekolah tersebut. Bahkan kenyataannya, siswa Kristen, Muslim dan Sikh terlihat di kedua sekolah baik Thawsi and Roong Aroon. Namun, Anda harus menunjukkan bahwa Anda ”siap”.

”Kami memiliki sebuah visi yang jelas di dalam bagaimana kami mendekati pendidikan,” kata Bupaswat. ”Ketika kita berbicara kepada orang tua, kami mencoba untuk melihat apa yang mereka harapkan dari kami dan apakah kami dapat memberikannya. Jika mereka membutuhkan anak mereka agar penuh dengan pengetahuan akademis, maka sekolah kami tidak akan menerimanya. Pada saat yang sama, kami juga menjunjung lima sila dan kami menginginkan mereka melakukannya juga,” jelas Bupaswat.

Sekolah Roong Aroon juga menerapkan prinsip yang sama. Sekalipun begitu, ini bukan berarti Anda harus menjadi seorang praktisi Buddhis yang ekstem atau menggunakan pakaian putih ala vipassana dalam rangka untuk menyesuaikan diri dengan sistem. Baik di sekolah Roong Aroon maupun Thawsi, mereka melihat sebuah keragaman para orang tua.

”Beberapa orang tua adalah pengusaha sedang beberapa diantaranya sangat modern tetapi kami semua menghormati ajaran kemoralan yang sama dan hidup bersama tanpa merasakan keanehan. Saya pikir adalah sifat alami manusia untuk rindu akan kehangatan hubungan dan sebuah rasa memiliki. Di Roong Aroon, kami tidak hanya berhubungan dengan status sosial kami tetapi kami semua berada dalam keluarga yang sama dimana kedermawanan merupakan praktik yang umum,” kata Prapapat.

”Karakteristik yang dibutuhkan oleh para orang tua dari anak-anak pendidikan Buddhis adalah kesiagaan, kesadaran dan kebahagiaan, dan yang paling penting adalah untuk selalu siap belajar dan meningkatkan diri bersama dengan anak-anak mereka,” Bupaswat dari sekolah Thawsi menyimpulkan.
[Oleh: Vanniya Sriangura]

Rekomendasikan:

Kategori: Asia Oseania,Asia Tenggara,Pendidikan,Thailand
Kata kunci: , ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN BERITA INI: