Asia Oseania » Asia Tenggara » Indonesia » Seremonial

Pesan Waisak KASI 2551 B.E / 2007

Jumat, 1 Juni 2007

onferensi Agung Sangha IndonesiaBhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Dalam rangka Hari Waisak 2551 B.E / 2007, Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI) memberikan pesannya kepada seluruh umat Buddha di Indonesia. Demikian isi pesan tersebut.

KONFERENSI AGUNG SANGHA INDONESIA

Tahun ini kita memperingati Hari Waisak yang ke-2551, artinya telah 2550 tahun Buddha Gotama mangkat. Dilahirkan 2630 tahun yang lalu, Sang Guru Jagad mencapai Penerangan Sempurna pada usia 35 tahun. Baik kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, maupun kemangkatan Beliau terjadi saat bulan purnama di bulan Waisak. Oleh karena itu pada Hari Waisak umat Buddha memperingati ketiga peristiwa tersebut.

Kehadiran Buddha diawali kisah mengharukan tentang seorang pangeran putra mahkota kerajaan yang meninggalkan istana maupun anak dan isteri yang dicintai untuk menjadi petapa di hutan. Apa gerangan yang menyebabkan? Tidak lain karena Beliau memiliki kepedulian terhadap duka cita yang berlaku bagi semua makhluk. Duka cita karena mengalami proses usia tua, duka cita karena mengalami proses sakit, dan duka cita karena mengalami proses kematian. Sebagai petapa, untuk membebaskan diri dari duka cita tersebut, mula-mula Beliau menyiksa diri bahkan sampai sempat tinggal tulang dan kulit. Namun jalan ekstrem tersebut ternyata keliru, sama kelirunya dengan jalan ekstrem memuaskan nafsu indera yang akan membuat orang semakin haus dan ketagihan. Kedua jalan ekstrem ternyata tidak dapat membawa pada pembebasan seutuhnya dari duka cita. Baru setelah menempuh Jalan Tengah, dengan menjalankan meditasi pengembangan kesadaran, Beliau akhirnya mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha.

Dapatlah dikatakan bahwa Penerangan Sempurna bermula dari kepedulian terhadap sesama. Berupaya keras mencari jalan yang dapat membebaskan semua makhluk dari duka cita dan setelah berhasil menemukan Sang Jalan mau berbagi dengan penuh ketulusan. Kepedulian dan ketulusan manusia agung yang kita kenal sebagai Buddha Gotama ternyata semakin relevan dengan kondisi kehidupan saat ini. Mengikuti jejak Buddha sebagai panutan, seyogianya kita meningkatkan kepedulian terhadap segala hal yang mengancam kehidupan orang banyak dan berupaya menemukan jalan keluarnya. Kita hendaknya benar-benar memiliki ketulusan dalam berbuat baik.

Kepedulian yang tidak dilandasi ketulusan berbuat baik sesungguhnya hanyalah kepedulian semu. Untuk itu cinta kasih sejati perlu dikembangkan. Apabila kita memiliki cinta kasih sejati, kita tentunya tidak akan menghancurkan alam maupun sesama makhluk. Namun kebanyakan dari kita sulit mengembangkan cinta kasih sejati terhadap alam dan sesama oleh karena memiliki keakuan yang besar. Kita memiliki pandangan keliru yang menganggap ada suatu diri yang terpisah dari yang lain. Akibatnya kita menjadikan sang aku itu lebih penting dari yang lain dan bahwa alam adalah objek yang tersedia untuk aku eksploitasi habis-habisan. Baru setelah bencana alam timbul atau ketika mengetahui bahwa akibat pemanasan global es di kutub akan mencair dan sebagian dari dunia tak lama lagi akan tenggelam, kita sadar bahwa kita adalah bagian dari alam, kita tidak terpisah dari alam maupun sesama makhluk. Sesungguhnya antara kita dengan alam ada saling ketergantungan karena saling menjadikan.

Demikian pula ada saling ketergantungan dan saling menjadikan di antara kita dan sesama. Jika kita dengan penuh keserakahan membuat sesama dilanda kemiskinan dan kemudian akibat tekanan penderitaan yang tak tertahankan tersebut sebagian dari mereka akhirnya melakukan kejahatan penjarahan, maka kehidupan yang semula terasa damai dan dilandasi gotong royong tentunya akan berubah menjadi penuh kekerasan dan kebencian. Bahkan jika atmosfir dunia terus dicemari dengan pikiran yang penuh dengan nafsu keserakahan dan amarah kebencian, maka alam pun pada gilirannya akan ikut bereaksi memunculkan aneka bencana.

Oleh karena dari masa yang panjang, melalui kelahiran yang berulang-ulang, kita telah melakukan banyak kesalahan baik dengan pikiran, ucapan, maupun tindakan, seyogianya dengan penuh kerendahan hati kita mau melakukan pengakuan kesalahan dan bertekad untuk kembali pada ketulusan berbuat baik. Kita berbuat baik hendaknya karena cinta kasih kita kepada sesama dan alam semesta, karena kepedulian kita pada kesejahteraan masyarakat. Kita hendaknya berbuat baik bukan karena keserakahan untuk menumpuk pahala atau bahkan karena ada udang di balik batu.

Kita seyogianya berusaha agar cinta kasih sejati yang universal tumbuh di hati kita, dengan menumbuhkan kebijaksanaan. Tanpa adanya kebijaksanaan, pengertian yang jernih, tak akan ada cinta kasih. Untuk mendapatkan pengertian yang jernih diperlukan kehidupan yang berkesadaran, kontak langsung dengan kekinian, benar-benar melihat apa yang sedang terjadi di dalam maupun di luar diri sendiri. Melatih kesadaran menguatkan kemampuan untuk melihat secara mendalam. Kita akan dapat melihat dengan jernih bahwa tidak ada suatu diri yang terpisah dari yang lain. Yang ada adalah saling menjadikan, saling ketergantungan.

Buddha menyadari saling ketergantungan. Setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna, Beliau memandang Pohon Bodhi tempat beliau duduk bermeditasi dengan penuh rasa terima kasih. Kita seyogianya meneladani apa yang Beliau lakukan, berterima kasih kepada alam dan semua makhluk dengan memberikan ketulusan kita dalam berbuat baik. Kalau kita semua dapat kembali pada ketulusan berbuat baik, maka masyarakat kita akan damai dan sejahtera.

Jakarta, 01 Juni 2007

SANGHA MAHAYANA INDONESIA

Bhiksu Dharmasagaro Mahasthavira

Ketua Umum

SANGHA THERAVADA INDONESIA

Bhikkhu Jotidhammo Mahathera

Ketua Umum

SANGHA AGUNG INDONESIA

Bhikkhu Nyanasuryanadi Mahathera

Ketua Umum

Dikeluarkan oleh :

Sekretariat Jenderal Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI)

Bhiksu Vidya Sasana Sthavira

Sekretaris Jenderal

Kata kunci: , ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN: