Asia Oseania » Asia Tenggara » Indonesia » Seremonial

Ini Isi Pesan Waisak 2561 EB/2017 dari Sangha Agung Indonesia

Selasa, 9 Mei 2017

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Dengan mengangkat tema Waisak: “Memahami Kebhinnekaan dalam Kebersamaan”, Sangha Agung Indonesia menyampaikan pesan Waisak 2561 EB/2017 dalam rangka menyambut Hari Tri Suci tersebut yang jatuh pada 11 Mei 2017.

Berikut isi Pesan Waisak 2561 EB/2017 dari Sangha Agung Indonesia yang ditanda tangani oleh Y.M. Khemacaro Mahathera, Ketua Umum Sangha Agung Indonesia.

 

PESAN WAISAK 2561 BE. 2017
SANGHA AGUNG INDONESIA

Namo Sanghyang Ādi Buddhaya
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammā Sambuddhassa
Namo Sabbe Bodhisattāya-Mahasattāya

Memahami Kebhinekaan Dalam Kebersamaan

Purnama di bulan Waisak telah tiba. Purnama yang di tunggu oleh umat Buddha untuk mengingat dan merenungkan kembali makna spiritual dalam tiga peristiwa sebagai penghormatan kepada Buddha.  Tiga peristiwa ini,  Pertama adalah lahirnya Pangeran Sidharta Gotama di Lumbini,  taman yang indah tahun 623 SM.  Beliau adalah Bodhisatta yang turun ke bumi dari surga Tusita untuk menjadi Buddha (M.iii.120).  Kedua, Bodhisatta Sidharta Mencapai Pencerahan sempurna,  merealisasi nirwana menjadi Buddha di Bodhgaya,  di bawah pohon Bodhi tahun 588 SM (M.i.249) dan yang kctiga, wafatnya Buddha Gotama di Kusinara,  di antara dua pohon Sala kembar tahun 543 SM (D.ii.156).

Buddha Gotama merealisasi Pencerahan setelah memahami kebhinekaan mengenai fenomena kehidupan;  lahir, tua, sakit, mati, bertemu dengan yang tidak menyenangkan, berpisah dengan yang menyenangkan, tidak mendapatkan apa yang diharapkan,  lima kelompok unsur yang tunduk pada kemelekatan sebagai penderitaan, hanya penderitaan dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan sebagai idiologi Pencerahan (S.v..421-422).  Inilah contoh nyata bagaimana Buddha melihat kebhinekaan dalam kehidupan.

Bercermin dari apa yang dilakukan Bodhisatta Sidharta dalam melihat kebhinekaan kehidupan sehingga Mencapai Pencerahan sempurna (M.i.247-249).  Bangsa Indonesia sebagai bangsa hasil transformasi pengetahuan sejak kejayaan agama Buddha dimasanya, telah mewarisi nilai-nilai Dharma dalam memahami kebhinekaan. Terbukti kata Bhinneka Tunggal Ika (Buku Sutasoma, Karya Mpu Tantular di abad 14) menjadi moto dalam lambang negara, Garuda Pancasila.

Kebhinekaan merupakan realitas bangsa yang tidak dapat dipungkiri. Kebhinekaan suku, ras, budaya, bahasa, dan agama adalah bukti nyata kekayaan bangsa Indonesia yang dipersatukan oleh idiologi bangsa,  yaitu Pancasila.  Meskinpun berbeda-beda suku, ras, budaya, bahasa, dan agama, tetapi kita tetap satu, yaitu bangsa Indonesia yang mengharapkan kemerdekaan, kesejahteraan, kedamaian, dan keadilan.  Pemahaman ini merupakan cerminan transformasi diri karena pengetahuan Dharma yang hanya memiliki saturasa, yaitu kebebasan (Ud.56). Maka, untuk mendorong terciptanya kehidupan yang merdeka, sejahtera, damai, dan adil kebhinekaan harus dimaknai melalui pemahaman multikulturalisme dengan berlandaskan pada kekuatan spiritualitas.

Memahami kebhinekaan dalam kebersamaan adalah sikap awal menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Gagal dalam memahami kebhinekaan akan melahirkan diskriminasi, sektarianisme, radikalisme, terorisme,  dan perpecahan di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,  seperti yang kita lihat akhir-akhir ini dan menelan banyak kerugian bangsa dan negara. Marilah kita memulai kembali untuk menciptakan kerukunan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama dengan senantiasa memiliki perbuatan, ucapan, pikiran yang didasari cinta kasih; saling berbagi, tidak saling menyakiti, dan menghargai segala bentuk perbedaan (A.iii.288-289).

Semoga momentum Waisak 2561 BE tahun 2017 kembali menginspirasi untuk menghargai segala kebhinekaan sebagai kekayaan, bukan perpecahan dengan berlandaskan pada Pancasila sebagai idiologi bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selamat merayakan Waisak 2561 BE. 2017. Semoga semua makhluk hidup bahagia.

Jakarta, 26 April 2017

Mettacittena
Sangha Agung Indonesia

Ttd.

Mahathera, Khemācaro

Ketua Umum


Demikian Pesan Waisak 2561 EB/2017 dari Sangha Agung Indonesia.[Bhagavant, 9/5/17, Sum]

Kata kunci: , , ,