Asia Oseania » Asia Tenggara » Indonesia » Seremonial

Berikut Pesan Waisak 2561 EB/2017 Sangha Mahayana Indonesia

Rabu, 3 Mei 2017

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Dalam Pesan Waisak 2561 EB/2017, Sangha Mahayana Indonesia menyoroti adanya sikap intoleransi yang semakin tinggi di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Mengangkat tema: “Dengan Semangat Waisak Kita Tingkatkan Toleransi dan Kerukunan Demi Tercapainya Kedamaian”, Sangha Mahayana Indonesia dalam pesannya mengangkat dekrit Raja Asoka mengenai toleransi hidup beragama yang harus dijunjung tinggi oleh umat Buddha.

Berikut Pesan Waisak 2561 EB/ 2017 dari Sangha Mahayana Indonesia yang ditandatangani oleh Sangha Nayaka (Ketua Umum) Sangha Mahayana Indonesia, Y.M. Bhiksu Kusalasasana Mahastavira.

Pesan Waisak 2561 EB/2017
Sangha Mahayana Indonesia

Namo Sakyamuni Buddhaya,

Kebahagiaan terbesar saat kita masih dapat berkumpul bersama memperingati Kelahiran Bodhisattva Sidharta setiap tahunnya. Perjuangan Bodhisattva Gotama yang luar biasa dalam mencapai Penerangan Sempurna menjadi Buddha. Beliau merupakan Guru istimewa yang menunjukan jalan menuju pembebasan tertinggi Nirvana, dimana terbebas dari penderitaan karena belenggu Keserakahan, Kebencian dan Kebodohan Bathin.

Umat Buddha selalu mengedepankan praktek nyata cinta kasih dan kasih sayang kepada semua mahluk di semesta alam ini. Menghindari permusuhan dan selalu mengedepankan kedamaian. Ini adalah praktek nyata Bodhisattva yang harus dijalankan sebagai Umat Buddha Mahayana.

Jaman sekarang terjadi banyak gesekan dan bibit-bibit ketidakharmonisan dikarenakan perbedaan yang semakin meruncing. Toleransi tentang kebebasan beragama dan bermasyarakat juga semakin rentan. Hal inilah yang mengancam negara kita dari persatuan dan kesatuan. Maka sebagai umat Buddha tetap harus menjunjung tinggi pesan kedamaian dari Raja Asoka tentang Toleransi:
“Janganlah kita menghormati agama kita sendiri dengan mencela agama lain. Sebaliknya agama lain pun hendaknya dihormati atas dasar-dasar tertentu.”

Dengan berbuat demikian kita membuat agama kita sendiri berkembang, selain menguntungkan pula agama lain.

Jika kita berbuat sebaliknya, kita akan merugikan agama kita sendiri selain merugikan agama lain. Oleh karena itu, barangsiapa menghormati agamanya sendiri dan mencela agama lain, semata-mata terdorong oleh rasa bakti kepada agamanya sendiri dengan pikiran ‘Bagaimana aku dapat memuliakan agamaku sendiri’, justru ia akan merugikan agamanya sendiri.

Karena itu kerukunan dianjurkan dengan pengertian biarlah semua orang mendengar dan menghormati ajaran yang dianut orang lain.”

Demikian hal yang perlu kita jaga demi keutuhan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia ini.

Umat buddha tetap harus mengunakan kebijaksanaannya dalam bertindak, berucap maupun berpikir. Agar kita selalu sadar mengendalikan enam indera kita untuk menghindari penderitaan.

Semoga Tema Waisak Tahun ini: “Dengan semangat Waisak kita tingkatkan toleransi dan kerukunan demi tercapainya kedamaian” bukan hanya sekedar selogan tetapi dapat benar-benar terwujud untuk kebahagiaan kita semua.

Tugas mulia segenap anggota Sangha Mahayana Indonesia, Pengurus Majelis Mahayana Indonesia (MAHASI) dan umat Buddha Indonesia untuk hidup bersama dalam mengembangkan Buddha Dharma di Bumi Nusantara ini.

Selamat Hari Waisak 2561 BE/2017

ttd.

Bhiksu Kusalasasana Mahasthavira
_______________
Sangha Nayaka Sangha Mahayana Indonesia

[Bhagavant, 3/5/17, Sum]

Kata kunci: , , ,