Asia Oseania » Seni dan Budaya » Tradisi dan Budaya

Bolehkah Umat Buddha Merayakan Cheng Beng?

Selasa, 28 Maret 2017

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Salah satu tradisi Tionghoa adalah memperingati Hari Cheng Beng. Apa itu Hari Cheng Beng? Dan bolehkah umat Buddha merayakan Cheng Beng?

Warga membakar persembahan dan menyapu makam di pemakaman sehari sebelum Festival Cheng Beng (Qingming) pada 3 April 2016 di Sanya, Provinsi Hainan, Tiongkok.
Warga membakar persembahan dan menyapu makam di pemakaman sehari sebelum Festival Cheng Beng (Qingming) pada 3 April 2016 di Sanya, Provinsi Hainan, Tiongkok. Foto: mashable.com (VCG/Getty Images)

Berdasarkan asal katanya, kata “cheng beng” adalah istilah dalam bahasa Hokkian untuk kata “qing ming” (清明qingming) dalam bahasa Mandarin yang berarti “cerah dan terang”.

Kata “qing ming” sendiri adalah istilah dalam astronomi Tionghoa yang mengacu pada salah satu dari 24 posisi matahari. Posisi matahari tersebut terjadi saat musim semi di bulan ketiga penanggalan lunar (Imlek) atau tanggal 4 atau 5 April penanggalan Masehi. Pada saat itulah cuaca dianggap paling cerah dan terang, sehingga disebut dengan istilah “qing ming“.

Saat cuaca cerah dan terang itulah masyarakat Tionghoa kuno di Tiongkok, khususnya Kaisar Xuanzong dari Dinasti Tang (685-762) yang mendorong perayaan Qingming, menganggap sebagai waktu yang tepat untuk mengenang dan menghormati mendiang orang tua atau leluhur.

Salah satu cara mengenang dan menghormati leluhur yang menjadi tradisi yaitu dengan mengunjungi makam leluhur (ziarah kubur) dan membersihkannya. Cuaca yang cerah dan terang mempermudah seseorang untuk membersihkan pusara leluhur mereka.

Sejak saat itulah Qingming atau Cheng Beng kemudian dikenal dengan perayaan atau Festival Bersih Terang atau Festival Ziarah Kubur atau Membersihkan Kubur.

Tradisi ziarah kubur untuk mengenang dan menghormati leluhur yang ditambah dan diselimuti dengan bentuk kepercayaan setempat (non-Buddhis) menjadikan Cheng Beng seperti yang dirayakan saat ini.

Di zaman modern ini, bagi sebagian masyarakat Tionghoa dan peranakannya, tradisi ziarah kubur menjadi hal yang dapat dikesampingkan dengan tanpa menghilangkan makna menghormati dan mengenang leluhur, yaitu dengan cukup melaksanakan persembahyangan dengan tetap diselimuti oleh kepercayaan rakyat Tiongkok (non-Buddhis).

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, makna inti dari Hari Cheng Beng tidak lain dan tidak bukan adalah mengenang dan menghormati mendiang orang tua atau leluhur.

Mempersembahkan makanan kesukaan mendiang, membakar baju dan uang kertas, dan sejenisnya yang ada dalam perayaan Cheng Beng hanyalah cara-cara menghormati yang berasal dari kepercayaan setempat yang menjadi kebiasaan (tradisi).

Lalu, bolehkah umat Buddha khususnya etnis Tionghoa merayakan Cheng Beng?

Berdasarkan pemahaman pada makna inti dari perayaan Cheng Beng yaitu mengenang dan menghormati mendiang orang tua atau leluhur, umat Buddha jelas boleh merayakan Cheng Beng.

Mengenang dan menghormati mendiang orang tua atau leluhur juga diajarkan dalam Agama Buddha yang terlihat dan terkandung dalam perayaan Hari Ullamabana dan praktik pelimpahan jasa (Pali: pattidana).

Yang perlu ditekankan adalah perlunya umat Buddha memiliki pemahaman yang benar (yaitu makna intinya) dan melakukan penyesuaian dengan ajaran Agama Buddha dalam merayakan Cheng Beng.

Umat Buddha dapat menggantikan cara-cara non-Buddhis yang ada dalam perayaan Cheng Beng dengan cara-cara Buddhis dalam mengenang dan menghormati mendiang orang tua atau pun leluhur.

Umat Buddha masih tetap boleh dan dapat berziarah kubur dan membersihkan makam leluhur sebagai cara mengenang dan menghormati leluhur.

Umat Buddha juga boleh memberikan persembahan kepada mendiang leluhur dengan catatan dilakukan berdasarkan pemahaman yang benar, yaitu menyadari hal ini adalah hanya satu bentuk penghormatan, dan memahami bahwa makhluk-makhluk yang terlahir kembali di alam tertentu saja dapat menerima dan menikmati persembahan tersebut.

Tetapi daripada membeli baju, uang, atau properti dari kertas lainnya untuk dibakar dan menimbulkan polusi, jauh lebih baik dan bermanfaat jika mendanakan sesuatu kepada mereka yang membutuhkannya seperti kepada panti asuhan, panti wreda, atau pembangunan vihara.

Dan di antara  persembahan untuk mengenang dan menghormati leluhur, yang terbaik dan terunggul adalah memberikan persembahan kepada Sangha (komunitas para bhikkhu/bhiksu) dalam bentuk praktik pelimpahan jasa.[Bhagavant, 28/3/17, Sum]

Kata kunci: