Asia Tenggara » Thailand

Profesor AS: Ada Kesan Aliran Dhammakaya Bermotif Politik

Rabu, 1 Maret 2017

Bhagavant.com,
Bangkok, Thailand – Seorang profesor asal Amerika Serikat melihat adanya perbedaan dari ajaran aliran kontroversial Dhammakaya dengan ajaran Agama Buddha (Buddhisme) tradisi Theravada yang ada di Thailand.

Citra Buddha versi aliran kontroversi Dhammakaya.
Citra Buddha versi aliran kontroversi Dhammakaya.

Stephen B Young, seorang profesor Amerika Serikat yang telah menemukan situs arkeologi Ban Chiang di distrik Nong Han, Provinsi Udon Thani pada lebih dari 50 tahun yang lalu, kembali masuk pemberitaan lagi minggu ini ketika ia mengungkapkan kepada otoritas Thailand atas kesannya terhadap aliran Dhammakaya ketika ia bertemu para pemimpinnya di tahun 2011.

“Saya pikir hal itu tidak biasa,” kata Prof. Stephen, mengacu pada ajaran aliran Dhammakaya seperti yang diberitahu oleh para pemimpin aliran Dhammakaya yang pernah ia temui selama dua pertemuan di Thailand enam tahun lalu.

Pada 2015, Prof. Stephen bersaksi tentang apa yang didengarnya dari aliran itu kepada Departemen Investigasi Khusus (DIK) yang sejak itu telah menyelidiki tuduhan kasus penipuan terhadap aliran kontroversial tersebut.

“Kesan pertama saya adalah bahwa ajaran mereka yang sangat aneh. Ajaran-ajaran ini tidak seperti ajaran Buddhisme Thailand. Mereka sangat berbeda dari segala hal lainnya yang telah saya pelajari tentang Buddhisme Thailand,” katanya seperti yang dilansir Bangkok Post, Minggu (26/2/2017).

Prof. Stephen mengatakan ia memiliki kesan aliran tersebut memiliki motif politik yang mendasarinya.

“Saya diberitahu oleh para pemimpin aliran itu bahwa misi mereka adalah untuk menunjukkan orang-orang bagaimana untuk menolak kekuatan gelap, dan membawa cahaya dan keadilan dalam kehidupan mereka dan dunia.”

Pada tahun 2011, Prof. Stephen yang merupakan lulusan Harvard tertarik dalam membangun jaringan akademik dengan Thailand untuk memajukan studi Buddhisme di AS. “Saya punya sedikit pengetahuan tentang aliran Dhammakaya,” kata Prof. Stephen yang kini sebagai direktur eksekutif global Caux Round Table.

Prof. Stephen mengunjungi Vihara Phra Dhammakaya (Wat Phra Dhammakaya) setelah mendapatkan sebuah undangan dari seorang pengunjung vihara Thailand yang ia kenal.

“Mereka ingin saya memperkenalkan Wat Phra Dhammakaya ke dekan Sekolah Kedewataan Harvard (Harvard Divinity School – HDS), yang merupakan teman saya,” katanya.

“Mereka ingin orang-orang di Harvard belajar tentang vihara dan ajaran mereka dan kepercayaan mereka. Jadi mereka bercerita tentang kepercayaan mereka dan ajaran mereka sehingga saya bisa memperkenalkan mereka ke Harvard Divinity School.”

Di sana, Prof. Stephen bertemu salah satu viharawan bergelar tertinggi di vihara itu, yang ia tolak untuk menyebutkan namanya. “Mengingat situasi saat ini, saya lebih memilih untuk menyebut dirinya hanya sebagai pemimpin,” katanya.

Sementara menunggu di pintu masuk, ia melihat sebuah pameran mengenai vihara itu. Di sini Prof. Stephen melihat sebuah rupaka Buddha keemasan yang tampak seperti model yang berbeda dari yang ia lihat sebelumnya – tidak seperti gaya dari periode Ayutthaya atau Sukhothai, catat Prof. Stephen.

“Kaki Buddha-nya sangat panjang. Kulitnya begitu halus. Wajah lebih terlihat seperti farang (keturunan Eropa). Batang tubuhnya juga memanjang. Benar-benar berbeda. Saya bertanya kepada viharawan senior: ‘Mengapa Anda memiliki sebuah citra Sri Buddha yang berbeda?'”

Disertai dengan senyum, viharan itu berkata bahwa citra itu diambil oleh kepala vihara setelah pertemuannya dengan Buddha. Para artis membentuk rupaka itu berdasarkan deskripsi kepala vihara dari pertemuan itu.

“Viharawan senior itu mengatakan kepada saya bahwa untuk pertama kalinya ini merupakan citra Buddha yang sesungguhnya, diambil dari yang hidup berkat kekuatan meditasi meditasi dan kemampuan kepala vihara (ketua aliran saat itu) untuk bertemu dengan-Nya. Semua citra yang ada sebelumnya tidak menunjukkan kepada kita Buddha yang sebenarnya, “kata Prof. Stephen.

“Itu adalah hal yang tidak biasa, saya belum pernah mendengar siapa pun di Asia atau Amerika mengatakan mereka telah pergi untuk melihat Buddha, bahkan Dalai Lama.”

Prof. Stephen mengatakan kepada viharawan tersebut bahwa ia tidak pernah mendengar adanya viharawan Thailand yang berbicara tentang misi mereka untuk menggulingkan oposisi atau yang disebut “kekuatan gelap”.

Para viharawan Thailand umumnya berfokus pada bertanya pada diri mereka sendiri bagaimana membantu para individu menjadi orang yang lebih baik, bukan membuat strategi tentang cara untuk mengalahkan lawan.

Prof. Stephen mengatakan bahwa ketua aliran, Phra Dhammajayo, bisa kembali ke dalam waktu untuk mengubah karma seseorang. “Apa yang saya dengar sangat berbeda dari apa pun yang saya pelajari tentang Buddhisme di Thailand,” katanya.

Saat Bangkok Post pada Minggu (26/2) menghubungi Wat Phra Dhammakaya terkait pertemuan dengan Prof. Stephen tersebut, pihak Wat Phra Dhammakaya secara tertulis menjawab “Kami tidak punya komentar”.

Menurut Prof. Stephen, viharawan senior yang bertemu dengannya pada tahun 2011 mengatakan Phra Dhammajayo bisa pergi ke surga dan kembali. Ia bisa kembali ke masa lalu untuk melihat kehidupan masa lalunya. Setelah melihat berapa banyak bun (jasa baik) dan berapa banyak bab (perbuatan buruk) yang ia punya, ia bisa kembali dan mengubahnya untuk memberikan dirinya lebih banyak bun.”

Viharawan itu menyerahkan kepada Prof. Stephen sebuah salinan bahasa Inggris dari sebuah buku yang diterbitkan oleh aliran tersebut.

“Saya membacanya,” Prof. Stephen menceritakan. “Di dalamnya, Dhammajayo menyerukan serbuah gerakan politik di bawah pemerintah untuk menyatukan semua rakyat Thailand demi keadilan melawan kejahatan dan kegelapan. Ide-ide tersebut sangat mirip seperti Fa Lun Gong di Tiongkok,” kata Prof. Stephen yang menambahkan bahwa pendiri Fa Lun Gong juga menulis tentang cahaya dan kegelapan.

Setelah kunjungan Prof. Stephen, ia didampingi oleh para viharawan untuk memenuhi seorang penyokong keuangan, seorang umat awam, aliran tersebut. Prof. Stephen menolak untuk mengidentifikasi siapa orang itu. Tapi ia ingat satu hal yang orang tersebut katakan kepadanya: “Ketika kita bisa memobilisasi 5 juta (orang), tidak ada yang bisa menghentikan kita.”

Prof. Stephen yang juga merupakan putra dari mantan duta besar AS untuk Thailand, tidak lagi asing dengan Thailand sebelum ia mengunjungi markas aliran Dhammakaya. Ia telah menemukan peninggalan di situs arkeologi Ban Chiang pada tahun 1966 secara tidak sengaja saat ia menjadi seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Harvard. Ia sedang melakukan penelitian di timur laut Thailand pada saat itu.

Prof. Stephen ingat bahwa ia sedang berjalan-jalan dengan seorang teman warga Thailand di sebuah desa dan melihat ke bawah. “Di bawah wajahku ada lingkaran sebuah cangkir,” kenangnya. Masyarakat setempat mengatakan kepadanya benda-benda tersebut adalah pot tua. “Hal yang menarik adalah seberapa tua,” katanya.

Prof. Stephen mengatakan membawa beberapa potongan tembikar ke para arkeolog Thailand di Bangkok, yang berujung pada evakuasi dan penemuan peradaban Ban Chiang.

Pada 2015, ketika DIK mulai menyelidiki keluhan penipuan oleh Phra Dhammajayo, Prof. Stephen secara sukarela memberikan kesaksian tentang dua kali pertemuannya dengan pihak aliran Dhammakaya.

Nirandorn Chaisri, yang saat itu sebagai pejabat DSI bertemu Prof Young dan menerima pernyataan tertulisnya. Sekarang setelah pensiun, mantan direktur DIK kasus keamanan nasional khusus mengatakan, pada waktu itu, ia sedang menyelidiki tuduhan penipuan oleh Phra Dhammajayo yang diajukan oleh pelapor lain.

“Apa yang ia (Prof. Stephen) katakan pada saya hal yang menarik. Ia membandingkan Wat Phra Dhammakaya dengan kultus di Tiongkok, meskipun hal itu tidak secara langsung terkait dengan tuduhan penipuan di bawah lingkup saya. Bagaimanapun, saya memasukkan kesaksiannya dalam dokumen yang diserahkan kepada pimpinan DIK dan meninggalkannya kepada atasan saya untuk memutuskannya,” kata Nirandorn, yang pensiun pada September 2015, dan mengatakannya kepada Bangkok Post pada Minggu (19/2).

Ditanya tentang bagaimana Wat Phra Dhammakaya bisa merugikan keamanan nasional, Prof. Stephen mengatakan: “Itu tergantung pada apa yang Anda lakukan dengan kepercayaan Anda. Jika Anda mencoba untuk menggulingkan kekuatan gelap yang mengarah kepada penggulingan lawan Anda, ini menjadi politis. Ini bukanlah sebuah misi agama,” katanya.

“Saya tidak pernah mendengar para bhikkhu Thailand berbicara tentang kekuatan gelap dan kekuatan cahaya. Saya diberitahu bahwa kekuatan gelap adalah hal yang buruk bagi Thailand dan aliran Dhammakaya perlu membantu masyarakat Thailand menghapus kekuatan gelap dan membawa cahaya, dan itu adalah misi politik masyarakat Thailand.”

“Biasanya para bhikkhu dalam Agama Buddha Theravada tidak berbicara tentang keadilan di dunia. Mereka berbicara tentang bagaimana untuk membantu para individu mencapai sebuah jalan mulia.”

Menurut Prof. Stephen, aliran Dhammakaya menyerupai gerakan Teratai Putih (Pinyin: Báilián jiào; White Lotus) di Tiongkok pada 1330-an.

“Dan sebagai seorang profesor, (saya dapat mengatakan bahwa) konsep kekuatan gelap dan kekuatan cahaya mirip dengan gerakan Teratai Putih,” katanya.

Menurut sejarah Tiongkok, Teratai Putih merupakan suatu gerakan tradisional keagamaan dan politik yang memuja Wusheng Laomu (harfiah: Ibu Terhormat yang tidak dilahirkan). Kelompok ini pernah melakukan pemberontakan pada 1330-an dan 1796–1806.

Teratai Putih memiliki cabang di antaranya aliran Xiantiandao yang kemudian juga memiliki salah satu cabang bernama Yiguandao (I Kuan Tao). Aliran Yiguandao ini muncul di sejumlah negara, termasuk di Indonesia yang membonceng Agama Buddha dengan menyebut diri mereka sebagai aliran Maitreya.

Mantan ketua aliran Dhammakaya, Phra Dhammajayo, hingga kini menjadi buronan pihak kepolisian Thailand terkait dugaan pencucian uang.  [Bhagavant, 1/3/17, Sum]

Kata kunci: ,