Kesenian » Seni dan Budaya

Setelah Ikut Festival di Berlin Film Buddhis Ini Didistribusikan di AS

Rabu, 22 Februari 2017

Bhagavant.com,
New York, Amerika Serikat – Sebuah film Buddhis akan segera didistribusikan secara luas di Amerika Serikat dan Kanada setelah mengikuti Festival Film Internasional Berlin Ke-66 pada 15-19 Februari 2017.

Film Buddhis “Becoming Who I Was”
Film Buddhis “Becoming Who I Was”. Foto: hollywoodreporter.com

Bond/360, sebuah perusahaan distribusi film yang berbasis di Amerika Serikat memperoleh hak eksklusif untuk sebuah film dokumenter Buddhis hasil arahan sutradara asal Korea Selatan, Chang-Yong Moon dan Jin Jeon, untuk peredarannya di Amerika Serikat dan Kanada.

Film dokumenter Buddhis yang berjudul “Becoming Who I Was” tersebut, pertama-tama akan diputar di New York dan kemudian secara nasional di gedung-gedung sinema di bawah label Karma Cinema sebelum akhirnya dirilis melalui berbagai platform media seperti DVD.

Diproduksi hampir selama 8 tahun, film Buddhis “Becoming Who I Was” mendokumentasikan perjalanan hidup nyata seorang anak bernama Padma Angdu yang dilahirkan di daerah warga diaspora Tibet yang tinggal di Ladakh, wilayah Jammu dan Kashmir, India.

Becoming Who I Was merupakan sebuah film menarik yang memadukan baik kisah perjalanan jelang usia dan kisah kasih sayang antara seorang guru muda dengan pelindungnya,” kata Elizabeth Sheldon, COO dari Bond/360 , seperti yang dilansir The Hollywood Reporter, Jumat (17/2/2017).

Kesukaran hidup yang dilalui Padma Angdu dimulai saat ia diakui sebagai kelahiran kembali dari seorang petinggi lama (guru) Tibet pada usia 5 tahun dan dinobatkan sebagai rinpoche pada 2010 saat ia berusia 6 tahun.

“Saya lahir sebagai sakti (kekuatan). Pada kehidupan ini orang-orang memanggilku Padma Angdu. Dalam kehidupan sebelumnya, saya hidup di Kham, Tibet,” kata Padma Angdu dalam cuplikan film tersebut.

Karena proses kelahiran kembali tersebut kini Angdu berada di wilayah yang berbeda dan terpisah dari vihara dan para siswanya terdahulu yang ada di Tibet.

Berbeda dengan kehidupan istimewa anak-anak yang dinobatkan sebagai rinpoche yang dikelilingi oleh para asistennya di vihara yang indah, Angdu tidak memilikinya bahkan sekarang ia dikeluarkan dari vihara tempat ia bernaung karena vihara tersebut telah memiliki seorang rinpoche dan Angdu dianggap telah “salah tempat” untuk dilahirkan.

Empat tahun di sebuah pondok kecil Angdu menunggu para siswanya yang terdahulu untuk datang dari Tibet, tetapi mereka belum juga datang. Ia hanya ditemani oleh Urgyan Rickzen, seorang dokter desa berusia lanjut yang menjadi ayah angkatnya.

Angdu dan Urgyan melakukan perjalanan berat menuju Tibet untuk kembali ke tempat asalnya. Namun, ketidakstabilan politik di Tibet membuat kemungkinan bepergian ke vihara di sana menjadi lebih berat. Tidak terpengaruh akan hal itu, keduanya menuju ke sana dengan berjalan kaki, disertai dengan kasih sayang, persahabatan, dan hakikat kehidupan.

Dalam Festival Film Internasional Berlin Ke-66, film Buddhis yang berlatar belakang pegunungan di Ladakh ini mendapatkan penghargaan Grand Prix dari The Kplus International Jury sebagai Feature Film Terbaik. Ini menandakan film “Becoming Who I Was” layak ditonton untuk generasi muda, khususnya anak-anak dan remaja.[Bhagavant, 22/2/17, Sum]

Kata kunci: