Buddhisme dan Kesehatan » Sains

Sri Buddha adalah Seorang Saintis Data, Ini Alasannya

Selasa, 31 Januari 2017

Bhagavant.com,
California, Amerika Serikat – Sri Buddha adalah seorang saintis data (ilmuwan yang khusus mempelajari data), demikian pendapat seorang praktisi strategi digital dan seorang saintis data.

Ilustrasi
Ilustrasi

Tara Cottrell, seorang penulis dan praktisi strategi digital, bersama dengan Dan Zigmond, seorang saintis data, penulis dan pandita Zen, mengemukakan pendapat mereka bahwa Sri Buddha adalah seorang saintis data, dalam artikel mereka di situs web Tech Crunch, sebuah situs berita yang berfokus pada perusahaan-perusahaan teknologi informasi. Keduanya juga merupakan penulis dari buku berjudul “Buddha’s Diet: The Ancient Art of Losing Weight Without Losing Your Mind“.

Mengawali tulisannya, mereka mengatakan bahwa Sri Buddha telah melakukan peretasan biologi (biohack) terhadap kesehatan-Nya untuk meningkatkan diri dan menghentikan penderitaan. Beliau pernah melakukan praktik ekstrem dari menahan napas hingga mengurangi jumlah makan sampai tidak makan sama sekali. Tetapi akhirnya Beliau menolak praktik-praktik ekstrem tersebut karena tidak menghasilkan apa yang ingin dicapai-Nya.

“Buddha percaya pada data. Setiap kali Ia mencoba sesuatu yang baru, Ia memberikan perhatian. Ia mengumpulkan bukti. Ia tahu apa yang berhasil dan apa yang tidak. Dan jika sesuatu tidak bekerja, Ia menolaknya dan beralih. Seorang ilmuwan yang baik tahu kapan harus berhenti,” kata tulisan kedua penulis tersebut.

“Saat Buddha mulai mengajar, Ia menasihati para siswa-Nya untuk melakukan hal yang sama. Ia tidak meminta siapa pun untuk menerima instruksi-Nya berdasarkan pada iman. Ia menjelaskan bahwa cara dari kebanyakan para guru lainnya yang bersikeras agar Anda mempercayai semua yang mereka katakan adalah seperti mengikuti iringan orang buta: ‘Yang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat’, Buddha tidak ingin kita percaya – Ia ingin kita untuk melihat. Keyakinan kita harus berdasarkan pada data.”

Cottrell dan Zigmond menyampaikan bahwa Sri Buddha juga melakukan pengumpulan data terutama dari pengalaman-Nya dalam memakan makanan. Berbeda dengan agama atau kepercayaan lain yang menerapkan peraturan dalam hal makanan karena perintah ilahi sebagai alasannya, Buddha melakukan pendekatan lain.

“Peraturan-Nya (mengenai makan) berdasarkan pada pengalaman-Nya. Seperti kebanyakan dari kita, Ia pernah mencoba melakukan sejumlah diet yang tak waras. Tetapi apa yang telah berhasil baginya sangat sederhana. Ia memberi sedikit nasihat tentang apa yang para bhikkhu-Nya harus makan, tapi Ia sangat rinci tentang kapan mereka harus memakannya. Para pengikut-Nya pada dasarnya bebas untuk makan apa saja yang telah diberikan kepada mereka – bahkan daging – tetapi hanya makan di jam antara pagi dan siang.”

“Buddha tidak memberikan penjelasan mistis atau supranatural untuk pembatasan waktu aneh ini. Tapi Ia cukup yakin hal itu akan meningkatkan kesehatan mereka. Ia telah mengujinya pada diri-Nya sendiri. ‘Karena Saya menghindari makan di malam hari, saya dalam kesehatan yang baik, ringan, energik, dan hidup nyaman,’ jelas-Nya. ‘Kau juga, para bhikkhu, hindari makan di malam hari, dan kau akan memiliki kesehatan yang baik.'”

Artikel tersebut berandai-andai jika Buddha masih hidup hari ini, Ia akan terkejut melihat begitu banyak para teknisi di Silicon Valley dan para hipster Brooklyn melakukan puasa intermiten (berjeda) sebagai kegemaran baru. Tapi Ia akan puas melihat bukti menggunung dari manfaat kesehatan yang telah Ia klaim tentang pembatasan waktu makan.

“Kita sekarang memiliki banyak studi ilmiah yang mengonfirmasikan data awal yang telah dikumpulkan oleh Buddha,” kata artikel berjudul “Buddha was a data scientist” tersebut.

“Misalnya pada tahun 2014, Dr. Satchidananda Panda dan tim peneliti di Institute Biologi Salk yang prestise di luar San Diego menerbitkan sebuah penelitian tentang obesitas pada mencit. Mereka mengambil satu kelompok mencit dan alih-alih makanan normal, mereka diberi makanan tinggi lemak, makanan berkalori tinggi – dan membiarkan mereka makan sebanyak yang mereka inginkan. Hasilnya tidak mengejutkan siapa pun:: mencit tersebut menjadi gemuk.

“Kemudian mereka mengambil kelompok mencit lainnya dan memberikan mereka makanan yang tampak persis sama tidak sehatnya, tapi kali ini mereka hanya membiarkan mencit tersebut makan selama 9 sampai 12 jam setiap hari. Selama sisa harinya dan pada malam hari, mencit itu hanya mendapat air. Dengan kata lain, mencit ini mendapatkan tindakan penggemukan prasmanan all-you-can-eat yang lezat. Satu aturannya adalah mereka hanya bisa mengisi perut pada beberapa jam selama mereka bangun.

“Kali ini, hasilnya mengejutkan: Tak satu pun dari mencit-mencit ini menjadi gemuk. Sesuatu mengenai menyesuaikan makan mereka dengan irama sirkadian alami mereka tampaknya melindungi mencit terhadap semua makanan yang menggemukan. Tidak masalah jika mereka sarat dengan gula dan lemak dan makanan rendah gizi lainnya. tampaknya tidak peduli apa yang mencit itu makan, atau bahkan berapa banyak, tetapi kapan mereka memakannya.”

“Dengan kata lain, data tersebut mendukung Buddha,” tulis Cottrell dan Zigmond.

“Ilmuwan lain telah menghasilkan hasil yang sama. Tim Dr. Panda bahkan mencoba menggemukan mencit itu pertama kali dengan makan kapan saja, dan kemudian beralih ke versi makan waktu-berbatas. Mencit-mencit ini tidak hanya berhenti gemuknya – mereka mulai kehilangan berat badan yang berlebih.

“Dan hal itu tidak berhenti pada mencit. Para peneliti telah meminta para pria dan wanita untuk membatasi makan mereka pada jam-jam tertentu setiap harinya, dan orang-orang tersebut juga turun berat badannya.

“Beberapa peneliti terbaik yang mempelajari makanan dan kesehatan telah mengonfirmasikan peraturan awal Buddha. Apakah Anda menyebutnya puasa intermiten atau pembatasan waktu makan, peretasan biologi kuno Buddha bukanlah suatu anomali. Data yang Ia kumpulkan dari diri-Nya telah ditiru oleh banyak orang lain,” artikel tersebut menjelaskan.

“Seperti ilmuwan data yang baik, Buddha belajar untuk mengabaikan data yang menyimpang terlalu jauh. Ia menyadari sejak awal bahwa kebenaran jarang ditemukan di praktik ekstrem. Sebaliknya Ia mempraktikan “Jalan Tengah,” filsafat kompromi dan moderat abadi. Diet dengan pembatasan waktu yang modern mengikuti jalan yang masuk akal yang sama – bukan berhenti makan sama sekali, tetapi juga bukan makan apa pun dan kapan saja. Setiap hari menjadi suatu keseimbangan, antara waktu untuk makan dan waktu untuk berpuasa.”

Mengakhiri artikelnya, Cottrell dan Zigmond mengatakan bahwa kita dapat melakukan semua apa yang Buddha lakukan dengan menjadikan tubuh kita sendiri sebagai saintis data; mengamati diri kita saat kita makan untuk melihat apa yang bermanfaat untuk kita dan apa yang tidak.

“Kita tidak dirancang untuk makan di setiap jam, suatu kemewahan tak menguntungkan yang kita miliki dengan semua makanan murah dan tersedia di negara-negara dunia pertama. Buddha menemukan hal ini pada masa lalu. Sekarang kita juga mengetahuinya,” tulis mereka di akhir artikelnya.[Bhagavant, 31/1/17, Sum]

Kata kunci: