Asia Tenggara » Indonesia » Sosial

Cara Mengatasi “Hoax” dengan 2 Ajaran dari Agama Buddha Ini

Senin, 23 Januari 2017

Bhagavant.com,
Jakarta, IndonesiaHoax atau berita palsu adalah laporan atau informasi yang tidak berdasarkan pada kenyataan yang sebenarnya. Keberadaannya sangat merugikan bagi mereka yang terjebak atau tertipu karenanya. Kebencian hingga pertikaian dapat muncul karenanya.

Jangan dengarkan hoax!
Jangan dengarkan hoax!

Hoax sering digunakan untuk berbagai kepentingan baik untuk politik, bisnis, bahkan untuk kepentingan ideologi atau kepercayaan tertentu.

Mereka yang membuat berita bohong tersebut bisa dikategorikan melakukan kejahatan fitnah saat berkenaan dengan menjelekkan (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan) orang lain.

Berita bohong atau hoax pada dasarnya sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan sudah ada sebelum lahirnya Agama Buddha. Yang membedakannya dengan zaman sekarang adalah media penyebarannya yang membuatnya menyebar dengan sangat cepat, di antaranya adalah media sosial.

Dalam kehidupan Sri Buddha, berita palsu juga menerpa diri-Nya yang disebarkan oleh orang-orang kepercayaan lain yang iri dan berusaha untuk menjatuhkan nama-Nya atau hanya untuk mencari pengikut baru. Dan pada masa sekarang Agama Buddha dan umat Buddha juga tetap masih diterpa hoax.

Agar tidak terjebak, tidak tertipu, tidak terjadi kesalahpahaman, dan tidak terjadi hal-hal negatif lain yang dihasilkan dari sebuah berita bohong, diperlukan cara untuk menangkal dan mengatasi berita palsu tersebut.

Menangkal dan mengatasi hoax yang merupakan hal yang menyimpang dari kebenaran tidak cukup hanya dengan berdiam diri. Pembuktian, penelusuran fakta untuk mengungkapkan kebenaran oleh pribadi masing-masing setiap orang, dengan mata kepala sendiri, merupakan cara yang terbaik.

Saat masing-masing individu mengetahui dengan benar fakta atau berita sesungguhnya, maka mereka berpotensi besar untuk tidak lagi meneruskan secara berantai berita bohong tersebut, dan mereka terlepas dari berbagai hal negatif yang dapat disebabkan oleh berita palsu.

Sri Buddha sendiri telah mengajarkan dua cara berikut dalam melatih para siswa-Nya sehingga terhindar dari berita palsu yang merugikan.

1. Jangan mudah percaya begitu saja
Hal pertama yang diajarkan oleh Sri Buddha adalah sikap untuk tidak mudah percaya begitu saja. Ajaran ini jelas dan tegas disampaikan dalam khotbah-Nya yang berjudul Kesaputtiya Sutta atau dikenal dengan Kalama Sutta (Tipitaka Pali: Aṅguttara Nikāya 3.65).

Khotbah yang disampaikan kepada penduduk Kalama dari Kota Kesaputta (sekarang Kesariya di Bihar, India) tersebut berisi tentang nasihat Sri Buddha kepada mereka di dalam menyikapi berbagai berita atau informasi yang mereka terima, dalam hal ini informasi mengenai apa yang terkandung dalam suatu ajaran kepercayaan atau agama.

Penduduk Kalama merasa bingung dengan informasi yang mereka terima dari para petapa lain yang sedang mempromosikan ajaran mereka. Mereka bertanya-tanya petapa mana yang mengatakan yang sebenarnya dan yang mana yang berbohong.

Untuk itu, Sri Buddha menasihati penduduk Kalama agar jangan mudah percaya begitu saja terhadap hal-hal yang belum diketahui oleh diri sendiri melalui penyelidikan. Hal-hal yang seharusnya tidak dipercaya begitu saja di antaranya adalah “perkataan orang” termasuk perkataan dari seseorang yang dianggap tokoh berpengaruh.

Setelah menyelidiki dan mengetahui oleh diri sendiri bahwa informasi atau berita tersebut benar, bermanfaat, tidak tercela maka mereka boleh mempercayainya. Sebaliknya jika tidak, maka mereka harus menolak dan meninggalkannya.

2. Datang dan selidiki sendiri
Sri Buddha selalu menyebut Dhamma atau Kebenaran yang diajarkan-Nya bersifat “ehipassiko“. Ehipassiko adalah ajakan atau undangan kepada semua orang tanpa kecuali untuk datang dan melihat, melakukan verifikasi atau pemeriksaan atau penyelidikan terhadap suatu hal untuk mendapatkan bukti, daripada hanya sekadar percaya begitu saja.

Dengan kata lain Beliau mengajak semua orang untuk melihat sendiri, mengalami sendiri apa yang terkandung dalam ajaran-Nya. Alih-alih mendapatkan informasinya dari pihak lain yang belum pasti kebenarannya, informasi yang didapatkan oleh diri sendiri lebih dapat dipercaya kebenarannya.

Kini istilah ehipassiko ini menjadi pedoman bagi umat Buddha untuk melakukan penyelidikan terhadap berbagai hal yang meragukan. [Baca selengkapnya tentang Ehipassiko]

Kedua ajaran tersebut, yaitu jangan mudah percaya begitu saja serta datang dan selidiki sendiri masih dapat diterapkan pada masa sekarang ini.

Keduanya sangat bermanfaat untuk menangkal dan mengatasi hoax. Ajaran ini bukan hanya untuk kalangan umat Buddha saja, tetapi untuk semua orang yang ingin terbebas dari jebakan hoax.

Dengan tidak mudah percaya begitu saja terhadap sebuah berita atau informasi, memberikan seseorang waktu untuk berpikir sebelum menilai dan berkomentar. Berita atau informasi dari mana pun, baik dari media sosial bahkan dari situs berita mainstream hendaknya tidak langsung dipercaya begitu saja.

Lakukanlah penyelidikan sendiri secara sederhana hingga mendalam sesuai berat-ringannya isu atau masalah dalam pemberitaan tersebut. Buktikan oleh diri sendiri apakah berita yang didengar atau dibaca benar adanya, setengah benar atau tidak benar sama sekali. Dan tentu saja termasuk informasi atau berita ini perlu dibuktikan.[Bhagavant, 23/1/17]

Kata kunci: