Arkeologi » Seni dan Budaya » Tiongkok

Rupaka Buddha 600 Tahun Muncul dari Waduk di Tiongkok

Selasa, 17 Januari 2017

Bhagavant.com,
Jiangxi, Tiongkok – Misi arkeologis bawah air di Tiongkok selesai dilaksanakan untuk mengungkap keberadaan rupaka Buddha berusia sekitar 600 tahun yang muncul dari sebuah waduk di sebelah timur Provinsi Jiangxi.

Rupaka Buddha muncul di di Waduk Hongmen di Daerah Nancheng di Kota Fuzhou, Tiongkok. Foto Facebook CCTV
Rupaka Buddha muncul di di Waduk Hongmen di Daerah Nancheng di Kota Fuzhou, Tiongkok. Foto Facebook CCTV.

Para arkeolog mengatakan rupaka Buddha yang awalnya ditemukan oleh warga setempat tersebut, memiliki tinggi 3,8 meter dan diukir di tebing. Dasar dari sebuah aula juga ditemukan di bawah air, menunjukkan bahwa ada sebuah vihara di sana.

Kepala rupaka Buddha tersebut terlihat di Waduk Hongmen di Daerah Nancheng di Kota Fuzhou akhir tahun lalu ketika proyek renovasi gerbang PLTA menurunkan kadar air di waduk dengan lebih dari 10 meter.

Xu Changqing, kepala lembaga penelitian arkeologi provinsi tersebut mengatakan bahwa ditinjau dari desain kepalanya, rupaka tersebut dipahat pada masa Dinasti Ming (1368-1644).

Misi yang dimulai awal bulan ini dan berakhir Minggu (15/1/2017), dilakukan oleh pusat perlindungan peninggalan budaya bawah air di bawah naungan Administrasi Warisan Budaya Negara dan Lembaga Penelitian Arkeologi Provinsi Jiangxi.

Menurut Li Bin, peneliti dari Administrasi Warisan Budaya Negara, sebuah jalan ditemukan di sebelah utara rupaka itu, dan sebuah prasasti dengan 30 karakter ditemukan di selatan. Di depan rupaka merupakan dasar dari aulanya, yang meliputi sekitar 165 meter persegi, kata Li.

Guan Zhiyong, kepala pemerintahan Kota Hongmen, mengatakan rupaka Buddha tersebut dibangun di persimpangan dua sungai tempat di mana biasanya perahu mudah terbalik karena aliran air yang deras.

“Menurut cerita rakyat, orang-orang dulu membangun rupaka itu untuk memohon untuk keselamatan,” kata Guan seperti yang dilansir Xinhua, Minggu (15/1/2017).

Menurut catatan sejarah kota tersebut, bendungan terletak di reruntuhan kuno Kota Xiaoshi, sebuah pusat perdagangan penting dan pusat kegiatan transportasi air antara Provinsi Jiangxi dan Fujian.

Menurut cerita rakyat, rupaka Buddha dibangun di persimpangan dua sungai tempat di mana biasanya perahu mudah terbalik karena aliran air yang deras.
Menurut cerita rakyat, rupaka Buddha dibangun di persimpangan dua sungai tempat di mana biasanya perahu mudah terbalik karena aliran air yang deras. Foto Facebook CCTV.

“Reruntuhan Kota Xiaoshi tidak terlihat dengan diturunkannya tingkat air, tetapi tim di bawah air juga menjelajahi kota tersebut,” kata Jin Huilin, kurator museum Kota Nancheng.

Waduk Hongmen, juga dikenal sebagai Danau Zuixian, dibangun pada tahun 1958. Banyak warga desa yang direlokasi untuk proyek tersebut. Mendengar berita tentang penampakan baru rupaka Buddha tersebut, beberapa warga desa kembali untuk berkunjung.

“Saya pergi ke vihara tersebut pada tahun 1952 dan melihat rupaka Buddha tersebut untuk pertama kalinya. Saya ingat rupaka itu disepuh pada waktu itu,” kata Huang Keping (82), seorang pandai besi yang pernah tinggal di dekat situs tersebut.

Ia ingat bahwa ada sebuah vihara kecil di kaki rupaka Buddha tersebut dan banyak warga desa memeluk Agama Buddha.

Jin Huilin mengatakan ada belum departemen perlindungan peninggalan budaya di daerah ini ketika bendungan itu dibangun, sementara museum daerah belum didirikan sampai tahun 1983.

“Juga ada kurangnya teknologi yang matang untuk melindungi peninggalan-peninggalan budaya, dan rupaka ini tidak bisa dipindahkan,” katanya.

Para pakar mengatakan rupaka itu terawat baik karena air mencegahnya dari pelapukan dan perusakan oleh manusia. Beberapa situs warisan sejarah dihancurkan selama Revolusi Kebudayaan di Tiongkok antara tahun 1966 dan 1976.

Para arkeolog mengatakan mereka akan melakukan penelitian untuk mempersiapkan perlindungan bagi peninggalan-peninggalan bawah air di waduk itu.

“Tingkat air waduk akan naik saat banjir musim semi tiba sekitar Maret, dan kepala rupaka Buddha itu akan terendam lagi,” kata Shan Keke, pejabat otoritas perairan Nancheng.[Bhagavant, 17/1/17, Sum]

Kata kunci: