Arkeologi » Tiongkok » Travel

Turis Meningkat, Gua Seribu Buddha Terancam Kelestariannya

Jumat, 5 Agustus 2016

Bhagavant.com,
Gansu, Tiongkok – Keindahan Gua Mogao atau Gua Dunhuang yang juga dikenal sebagai Gua Seribu Buddha di Dunhuang, Gansu, Tiongkok, bukan saja mendatangkan banyak turis tetapi juga mengancam kelestariannya.

Gua Mogao atau Gua Dunhuang yang juga dikenal sebagai Gua Seribu Buddha di Gansu, Tiongkok. Foto: Panorama Dunhuang Research Academy
Gua Mogao atau Gua Dunhuang yang juga dikenal sebagai Gua Seribu Buddha di Gansu, Tiongkok. Foto: Panorama Dunhuang Research Academy

Terletak di jantung Jalur Sutra, di tepi Gurun Gobi, dan terletak 25 km (15,5 mil) arah tenggara dari pusat Kota Dunhuang, Gua Mogao merupakan suatu kompleks vihara gua yang dipahat dari tebing batu pasir yang di dalamnya terdapat sejumlah besar rupaka dan lukisan dinding Buddhis yang indah, dan ratusan ruang kediaman (kuti) para bhiksu yang juga dipahat pada tebing.

Keberadaan rupaka dan lukisan berupa figur Buddha yang jumlahnya ribuan tersebut membuatnya disebut dengan istilah Gua Seribu Buddha (千佛洞 – qiān fó dòng), istilah yang sama seperti gua-gua lain yang seperti Gua Seribu Buddha Bagian Barat dan Gua Yulin yang  juga terdapat ribuan koleksi figur Buddha baik lukisan maupun rupaka.

Meskipun telah beberapa abad lamanya ditinggalkan, Gua Mogao dapat bertahan dari bencana yang ditimbulkan oleh alam maupun manusia termasuk gempa bumi, banjir dan badai pasir, para penjajah dan perampok, hingga Revolusi Kebudayaan Tiongkok.

Rupaka Buddha berbaring salah satu karya seni dari gua no. 158 di Gua Mogao.
Rupaka Buddha berbaring salah satu karya seni dari gua no. 158 di Gua Mogao. Foto: wikipedia.org.

Tetapi saat ini, lukisan dinding yang rapuh, beberapa di antaranya berasal dari abad ke-4, dan yang mempertunjukkan kisah kehidupan Sri Buddha serta kehidupan alam lain, menghadapi ancaman lain yaitu para turis dan komersialisasi yang berlebih.

Berdasarkan statistik Akademi Penelitian Dunhuang (Dunhuang Research Academy) yang bertanggung jawab untuk konservasi, manajemen, dan penelitian situs bersejarah tersebut, menunjukkan dalam tujuh bulan pertama tahun ini, kunjungan ke gua tersebut melonjak 31 persen menjadi 598.000 turis.

“Dalam 100 tahun terakhir, sebagian besar kerusakan telah dilakukan oleh alam, tetapi kunjungan lebih banyak turis akan merusak keseimbangan awal di dalam gua tersebut,” kata Wang Xudong, presiden Akademi Penelitian Dunhuang seperti yang dilansir Washington Post pada peertengahan Mei lalu.

Penelitian bertahun-tahun Akademi Penelitian Dunhuang menunjukkan kepadatan karbon dioksida di sebuah gua bisa naik lima kali lipat jika 40 orang pengunjung berdiam di dalamnya selama setengah jam.

Rupaka Buddha dengan ruangan bermural dari gua no. 196 di Gua Mogao.
Rupaka Buddha dengan ruangan bermural dari gua no. 196 di Gua Mogao. Foto: Foto: Panorama Dunhuang Research Academy

Li Ping, wakil ketua komite administrasi Gua Mogao mengatakan bahwa tingkat karbon dioksida yang tinggi secara berkelanjutan di gua-gua tersebut menimbulkan ancaman bagi rupaka-rupaka dan lukisan-lukisan dinding, serta merugikan kesehatan para turis.

“Kami berharap para turis menghindari musim puncak jika mereka bisa, untuk melindungi peninggalan tersebut dan kenyamanan para turis,” katanya Li, seperti yang dilansir Xinhua, Selasa 92/8/2016).

Li juga mengatakan bahwa untuk tujuan pelestarian, gua tersebut memiliki lebih dari 60 staf teknis yang didedikasikan untuk pemulihan lukisan dinding.

Gua Mogao atau Gua Seribu Buddha di Dunhuang menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1987. Dari tahun 1988 hingga 1995 telah ditemukan 248 gua ditemukan di arah Utara dari 487 gua yang telah diketahui sejak tahun 1900-an.

Dibangun pada sekitar tahun 366 Masehi, keberadaan karya seni di Gua Magao yang masih cukup utuh hingga sekarang menjadikannya salah satu karya seni Buddhis yang tertua dan terbaik di Tiongkok.[Bhagavant, 5/8/16, Sum]

Kata kunci: ,