Amerika Serikat » Pendidikan

Guru Zen Ajak Lulusan Stanford agar Kembangkan Praktik Spiritual

Selasa, 17 Juni 2014

Bhagavant.com,
California, Amerika Serikat – Ditujukan kepada Angkatan tahun 2014, Zoketsu Norman Fischer, seorang Guru Zen dan juga seorang pujangga, mengajak para lulusan Universitas Stanford agar mengembangkan spiritual secara teratur untuk mempertahankan hidup dalam perjalanan hidup manusia dengan sepenuh hati mereka dan dengan cinta mereka yang terang dan penuh kedermawanan.

 Guru Zen Zoketsu Norman Fischer, pendiri Everyday Zen Foundation, memberikan ceramah pada Angkatan 2014 di Baccalaureate di Lapangan Utama pada Sabtu (14/6/2014).
Guru Zen Zoketsu Norman Fischer, pendiri Everyday Zen Foundation, memberikan ceramah pada Angkatan 2014 di Baccalaureate di Lapangan Utama pada Sabtu (14/6/2014). Foto: news.stanford.edu – L.A. Cicero.

Master Zoketsu, yang berbicara pada Sabtu pagi di Lapangan Utama pada Bakaloreat (Inggris: baccalaureate), sebuah acara perayaan lintas agama bagi para wisudawan, wisudawati dan keluarga serta teman-teman mereka, memberi judul pidatonya: “Bagaimana Mempertahankan Hidup Anda yang Menjanjikan.” Stanford Report melaporkan pada Sabtu (14/6/2014).

Master Zoketsu, pendiri Everyday Zen Foundation, mengatakan bahwa pendefinisian karakteristik praktik spiritual adalah bahwa praktik spiritual haruslah “tidak bermanfaat, benar-benar tidak bermanfaat” bagi tujuan duniawi.

“Sekarang Anda telah melakukan banyak hal yang baik untuk banyak alasan yang baik untuk waktu yang lama,” katanya, “Untuk kesehatan fisik, kesehatan psikologis Anda, kesehatan emosional Anda, untuk kehidupan keluarga Anda, untuk kesuksesan masa depan Anda, untuk kehidupan ekonomi Anda, komunitas Anda, untuk dunia Anda. Tapi praktik spiritual ‘tidaklah bermanfaat’. Praktik spiritual tidaklah bertujuan untuk salah satu dari masalah-masalah tersebut ini. Praktik spiritual merupakan praktek yang kita lakukan untuk menyentuh kehidupan kita melampaui semua masalah-masalah – untuk menjangkau melampaui hidup kita ke sumbernya.”

Master Zoketsu, yang merupakan mantan kepala Pusat Zen San Francisco, lembaga Buddhis tertua dan terbesar di Barat, mengatakan bahwa praktiknya selama bertahun-tahun hanya sederhana yaitu duduk dalam keheningan.

Ia mengatakan praktik-praktik spiritual berasal dari cinta, menganjurkan cinta dan menghasilkan lebih banyak cinta. Praktik-praktik spiritual membutuhkan imajinasi dan ketidakterbatasan dalam ragamnya.

“Apakah Anda percaya atau tidak kepada tuhan, Anda dapat berharap,” katanya. “Anda dapat merenungkan teks-teks spiritual atau seni, puisi, musik sakral. Anda bisa hanya dengan berjalan tenang di bumi ini sebagai praktik spiritual. Anda bisa menatap lanskap atau laut atau langit. Sedikit saran:… Jika Anda pernah dalam masalah, lihatlah ke langit selama beberapa menit dan Anda akan merasa lebih baik.”

Di antara praktik-praktik spiritual lainnya yang Master Zoketsu ajukan adalah belas kasihan – menghampiri penderitaan orang lain dan penderitaan Anda sendiri daripada berpaling darinya.

“Bisakah Anda menjadi lembut dan dibawa kepada kebijaksanaan oleh rasa sakit yang tak terhindarkan dari diri sendiri atau orang lain?” undangnya.

“Atau Anda bisa berlatih bersyukur,” katanya. Ia menganjurkan para lulusan Stanford tersebut bahwa hal pertama yang dilakukan oleh mereka setiap pagi adalah melatih diri untuk menutup mata Anda, hanya diam sejenak, dan berkata dengan lembut kepada diri sendiri kata ‘bersyukur,’ dan lihatlah apa yang muncul dalam pikiran Anda.”

Master Zoketsu mengajak para lulusan untuk berpikir serius tentang menciptakan praktik spiritual, tetapi bukan tanpa sukacita dan ringan batin..

“Hari ini Anda meluncur dari surga,” katanya memberikan perumpamaan. “Di dunia mana Anda akan mendarat? Ketika Anda sampai di sana, apa yang akan Anda lakukan? Apa yang benar-benar berharga dan apa yang hanya sekedar sebuah pengalih perhatian – tidak peduli berapa banyak orang memberitahu Anda bukankah demikian? Ini bukanlah hal yang sederhana. Anda akan harus mengungkapkan hal-hal ini. Tidak ada seseorang pun kecuali Anda yang bisa melakukannya.”

Perayaan Bakaloreat dibuka dengan sebuah ajakan kebaktian Buddhis yang dilakukan dengan sebuah gong mangkuk (rin gong/suzu gong) dan diakhiri dengan tabuhan genderang Tatsumaki yang dramatis, yang dilakukan oleh Stanford Taiko.

Di antara kegiatan tersebut terdapat sebuah seruan, “A Prayer of the Ojibwe Nation“; sebuah doa penutup; dan dua bacaan: “I Have Learned So Much” karya Hafidz Asy-Syirazi (Hafez dari Shirazi), dan bacaan terjemahan Zen oleh Master Zoketsu.
yang terinspirasi dari Mazmur 124.

Stanford Talisman, sebuah kelompok a cappella mahasiswa, menampilkan dua buah lagu, “Wanting Memories” sebuah lagu dari diaspora Afrika, dan “One by One” sebuah lagu etnis Xhosa yang terinspirasi oleh gerakan anti apartheid Afrika Selatan.[Bhagavant, 17/6/14, Sum]

Kata kunci: