Pesan Waisak 2557 EB / 2013 STI Tentang Keteladanan yang Baik

Sangha Theravada IndonesiaBhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Dalam kehidupan bermasyarakat di berbagai bidang, banyak orang yang melakukan suatu perbuatan karena mengikuti, meniru, mencontoh atau meneladani perbuatan yang dilakukan oleh seseorang yang dianggapnya patut ditiru. Oleh karena itu keteladanan yang baik dari berbagai peran seperti orang tua, guru, pemimpin agama, pemimpin masyarakat dan negara sangat diperlukan untuk membangun, meningkatkan, bahkan mencapai cita-cita mulia kemajuan dan kebahagiaan hidup.

Melihat perlu dan pentingnya keteladaan yang baik bagi masyarakat, dalam pesan Waisak 2557 EB / 2013, Saṅgha Theravāda Indonesia (STI) mengangkat tema Waisak tahun ini dengan tajuk: ”Keteladanan Dasar Kemuliaan”. Apakah keteladanan itu menurut agama Buddha? Apakah fungsi dari keteladanan tersebut? Apa yang diperlukan seseorang sehingga bisa tampil sebagai teladan yang baik? Berikut pesan Waisak yang disampaikan oleh STI untuk peringatan Waisak 25 Mei mendatang.

PESAN WAISAK 2557

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Nidhinam va pavattaram, Yam passe vajjadassinam
Niggayhavadim medhavim, Tadisam panditam bhaje
Tadisam bhajamanassa, Seyyo hoti na papiyo
(Dhammapada 76)

Hari Trisuci Waisak mengingatkan tiga peristiwa suci yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan kemangkatan beliau. Tiga peristiwa suci itu terjadi pada hari purnama sidi, bulan Waisak atau bulan Mei, dengan tahun berturut-turut 623 SM, 588 SM, dan 543 SM. Guru Agung Buddha lahir sebagai putra mahkota kerajaan Kapilavatthu, di India Utara, mencapai Pencerahan Sempurna di Bodhgaya, dan mangkat Pari-nibbana di Kusinara, India. Marilah umat Buddha sekalian melakukan pujabakti, bersamadi, serta menghayati Dhamma ajaran Buddha untuk  mengagungkan Trisuci Waisak yang mulia ini.

Siswa Guru Agung Buddha yaitu Arahat Sariputta telah menjadi teladan tatalaku bagi seorang bhikkhu yang bernama Radha. Keteladanan Yang Ariya Sariputta mendapatkan pujian dari Guru Agung Buddha, dengan ungkapan: Seseorang hendaknya dianggap seperti penunjuk harta karun, bila ia menunjukkan sesuatu yang harus dihindari serta memberikan dorongan terhadap sesuatu yang harus dilakukan, begitulah seorang bijaksana yang patut diteladani, sungguh baik dan tidak tercela meneladani orang bijaksana seperti itu. (Dhammapada 76)

Keteladanan Dasar Kemuliaan, itulah tema Perayaan Trisuci Waisak 2557 ini.  Keteladanan ibu, keteladanan ayah, keteladanan guru, keteladanan pemimpin agama, keteladanan pemimpin masyarakat, bahkan keteladanan pemimpin bangsa, pendek kata keteladanan sangatlah diperlukan bagi setiap peran, tugas jabatan, maupun kedudukan baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Tatalaku, peraturan, bahkan undang-undang telah ditetapkan, sangsi terhadap pelanggarannya juga sudah ditetapkan, tetapi penerapan peraturan itu sering kali tidak seperti yang diharapkan. Pada umumnya diperlukan suatu perwujudan nyata dari hal-hal tersebut di atas dalam kehidupan sehari-hari, disitulah diperlukan keteladanan. Ajaran agama disebarluaskan, umat Buddha memperoleh ajaran kebenaran Dhamma, ajaran itu masih harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, karena pada hakikatnya ajaran itu hanya berupa konsep pikiran belaka apabila belum dapat diterapkan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan pemimpin agama diperlukan agar umat beragama menjadi tahu jelas bahwa konsep ajaran telah menjadi laku hidup yang nyata. Guru Agung Buddha mengatakan: Biarpun seseorang banyak membaca kitab suci, tetapi tidak mempunyai tingkahlaku sesuai dengan ajaran, maka orang yang lengah itu sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain. Ia tidak akan memperoleh manfaat dari kehidupan luhur. (Dhammapada 19)

Keteladanan memerlukan pembenahan sikap diri terlebih dulu sebelum seseorang pantas menjadi contoh bagi orang lain. Pembenahan sikap diri sendiri sesungguhnya sangat dianjurkan dalam ajaran Buddha. Seseorang yang arif tidak berbuat jahat demi kepentingannya sendiri ataupun orang lain, demikian pula ia tidak menginginkan anak, kekayaan, pangkat, ataupun keberhasilan dengan cara yang tidak benar. Orang seperti itulah yang sesungguhnya luhur, bijaksana, dan berbudi. (Dhammapada 84) Guru Agung Buddha juga mengatakan: Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi malas dan tidak bersemangat, maka sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang berjuang dengan penuh semangat. (Dhammapada 112) Keteladanan dalam hal menghindari dan tidak melakukan perbuatan tidak benar atau jahat, dan keteladanan dalam hidup berjuang penuh semangat merupakan hal-hal yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita dewasa ini.

Keteladanan selain sebagai contoh hidup juga dapat menjadi motivasi hidup bagi banyak orang. Dorongan untuk melakukan sesuatu yang semula mungkin masih diragukan bahkan tidak disukai, akhirnya keraguan dan ketidaksukaan menjadi sirna, dan muncullah semangat untuk berbuat sesuatu yang diyakini baik, benar, dan bermanfaat. Apalagi keteladanan dari seorang pemimpin tentu memiliki pengaruh daya dorong kuat bagi orang yang dipimpinnya. Karena itu keteladanan yang diharapkan adalah keteladanan yang membangun, meningkatkan, bahkan mencapai cita-cita mulia kemajuan dan kebahagiaan hidup.

Keteladanan itu sendiri dapat dipergunakan sebagai pengarah hidup, orientasi hidup masyarakat maupun bangsa. Tanpa keteladanan nyata maka fenomena sosial bangsa akan menunjukkan disorientasi nilai yang sangat memprihatinkan, orang kehilangan pandangan batas-batas antara baik-buruk, benar-salah, sehingga hal itu memicu perilaku menyimpang dan konflik di masyarakat, seperti halnya pimpinan yang mestinya menjadi panutan dan dipercayai tetapi malah tersangkut kasus korupsi, karakter masyarakat bermental instan ingin cepat kaya dengan menghalalkan segala cara sehingga terjebak dalam penipuan, nilai-nilai kebaikan seperti riak-riak kecil saja dalam kehidupan kita sedangkan budaya hampa aturan kian marak. Salah satu akar masalahnya adalah kepemimpinan yang lemah dan tidak mampu memberikan teladan. Peran pemimpin sedemikian penting terutama bagi bangsa yang memiliki sifat kekerabatan paternalistis.

Keteladanan dapat dilakukan dengan dua cara: terencana dan tidak terencana. Keteladanan pemimpin sebaiknya keteladanan yang memang dilakukan secara terencana, sebab keteladanan yang tidak direncanakan kurang dapat diarahkan pada tujuan tertentu yang ingin diraih. Apabila seorang pemimpin menghendaki orang-orang yang dipimpinnya memiliki kualitas tertentu, tentu pemimpin perlu merencanakan keteladanan yang diperlukan, seperti halnya pemimpin yang menginginkan orang-orang memiliki etos kerja tinggi maka pemimpin tersebut tentu harus dapat memberi contoh semangat kerja yang prima.

Kemuliaan hidup merupakan harapan bagi setiap orang, apapun peran, tugas jabatan maupun kedudukannya. Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa kehidupannya yang penuh dengan kecurangan bahkan kejahatan sebagai suatu ketidakmuliaan, bahkan mereka bangga menikmati apa yang dilakukannya itu. Perilaku kekerasan yang terjadi di masyarakat maupun dalam rumahtangga, pencurian, penipuan, penyuapan, pencucian uang, korupsi, kecanduan narkoba, tindakan-tindakan asusila adalah perilaku yang menimbulkan penderitaan bagi pelakunya, dan juga bagi orang lain, dan hal itu tidak mulia.

Kemuliaan hidup dapat terjadi apabila perilaku yang kita lakukan bukan saja membahagiakan diri sendiri tetapi juga membahagiakan orang lain, semoga semua makhluk hidup berbahagia. Kepedulian sesama, pengendalian diri sesuai tatasusila Buddhis maupun etika sosial, ketaatan terhadap peraturan, dan kepatuhan pada hukum negara, merupakan kemuliaan hidup.

Karena itu keteladanan hidup terutama oleh para pemimpin hendaknya perlu ditampilkan secara terencana agar orang-orang dapat termotivasi, serta melakukan hal-hal yang memang baik, benar, dan bermanfaat. Ing ngarso sung tulodo, apabila berada di depan, jadilah suri teladan.

Selamat Hari Raya Waisak 2557, semoga kita semua dapat menjadi teladan yang baik ataupun memperoleh teladan yang baik, sehingga jalan hidup kita meraih kemuliaan.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi.

 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia

Kota Mungkid, 25 Mei 2013

SANGHA THERAVADA INDONESIA

ttd.

Bhikkhu Jotidhammo Mahathera
Ketua Umum / Sanghanayaka