Sebuah Pengalaman Meditasi Untuk Orang Tua

MeditasiThe Guardian,
London, Inggris Raya – Dapatkah meditasi membuat anda menjadi orang tua yang lebih baik? Melissa McClements merasa sulit untuk menangani tantrum (ekspresi marah) putrinya – sampai akhirnya ia bergabung dengan sebuah kelas meditasi untuk orang tua dan balita. Tapi, bagaimanakah anda bisa tetap tenang saat anak anda berperilaku buruk? Berikut pengalaman Melissa McClements yang dilansir oleh The Guardian (15/3).

Baru-baru ini saya dan anak balita saya memulai sebuah kelas meditasi. Saya tahu apa yang anda pikirkan. Orang tua bodoh macam apa yang berusaha mengendalikan pikiran agar tenang di depan seseorang yang menggunakan waktu hening dengan memasuk-tempelkan pensil di lubang hidung mereka dan berteriak ‘Hickory Dickory Dock‘?

Tapi sekarang saya adalah orang tua bodoh tersebut. Dan meditasi berjalan dengan baik. Sangat baik. Meskipun ada satu hal yang membuat malu saat balita saya yang berusia dua tahun menunjuk ke seorang bhiksu dan bertanya, ”Mengapa pria itu menggunakan pakaian seperti seorang wanita?”. Meditasi memberikan saya sarana praktis untuk kehidupan sehari-hari bersama dengan seorang balita. Karena, jujur saja, meskipun mereka dapat menjadi manis namun tidak bisa membuat kita santai.

Sebagian besar waktu putri saya, Phoebe, diisi dengan hal yang menarik sekali – penuh dengan nyanyian, cekikikan dan tarian spontan. Tapi, kadang-kadang, ia mengalami kemarahan yang tak terkendali. Di antaranya meronta-ronta di lantai, menyerudukan kepala dan sebuah raungan yang dapat membangunkan hantu wanita. Saya mengalami kesulitan untuk mengatasinya, khususnya di tempat umum. Pernah ada kejadian mengenai roti lapis tuna di sebuah kafe yang masih dapat saya bayangkan dengan merasa bergidik.

Suami saya yang pertama kali memiliki gagasan meditasi tersebut. Ia mulai kursus meditasi untuk membantu mengatasi stres dalam pekerjaannya. Bagi saya semuanya nampak seperti zaman baru (new age): seperti yang disukai oleh orang-orang yang membaca aura, menempelkan kristal pada kepala anak-anak mereka saat mereka sakit. Tapi kemudian saya menyaksikan perbedaan di dalam dirinya. Ia bisa menghindari kecanggungan di tempat kerjanya yang sebelumnya akan membuatnya menggeretakkan gigi dalam kemarahannya akibat dari insomnia pada jam 4 pagi.

Saya bertanya-tanya apakah meditasi dapat membantu saya tetap tenang pada saat terjadi tantrum pada Phoebe, dan saya membawa Phoebe ke sebuah kelompok meditasi orang tua dan balita di pusat Buddhis setempat. Percayalah, hal ini dilakukan bukan dengan tidak ada rasa waswas. Saya dibesarkan sebagai seorang ateis yang melihat agama yang terorganisir sebagai sumber semua penderitaan manusia. Namun, saya juga berpikir, bagaimanapun juga merupakan suatu arogansi bodoh untuk menghapus kebijaksanaan kuno secara keseluruhan.

Kami masuk ke sebuah ruangan besar. Bantal dan sekeranjang mainan yang tertata, juga meja-meja kecil yang terdapat pensi-pensil dan gambar-gambar Buddha untuk diwarnai. Perlu saya jelaskan bahwa hanya orang tua yang bermeditasi. Para balita hanya datang untuk bermain. Dua orang penjaga mengawasi mereka saat para bunda dan ayah keluar area (saat ini dijelaskan di awal, saya bertanya-tanya apakah mereka tahu bagaimana menangani perilaku memaksa menelan benda bukan makanan yang beberapa kali lebih besar dari tenggorokan).

Seorang pria berjubah jingga, berkepala tak berambut masuk dan duduk, menyilangkan kaki di sebuah podium. Saya merasa tidak nyaman, sampai dengan saat ia membuat sebuah kelakar mengenai seorang bhiksu memberitahu sekelompok ibu-ibu mengenai bagaimana mengatasi anak-anak mereka. Ia berbicara dengan logat cockney dan kerap tertawa. Kemudian ia menggoda beberapa anak mengenai bau kaki mereka.

Kami para orang dewasa menutup kedua mata kami kemudian ia membimbing kami melalui meditasi – pada awalnya menginstruksikan kami untuk fokus pada pernapasan kami dan kemudian meminta kami untuk memikirkan aspek positif dari seseorang, ehem, ‘kesulitan’ yang kita alami dalam kehidupan kita.

Kedengarannya sangatlah tidak menyenangkan, tapi anak-anak secara aneh terdiam pada awalnya – meskipun mereka mungkin saja hanya terlalu terpukau dengan pengaturan yang tidka biasanya. Saya benar-benar dapat mencoba untuk menenangkan ‘miasma’ (racun rawa) yang berputar-putar di pikiran saya (dan sebagian besar gagal – ayolah, para guru Tibet menghabiskan seumur hidup untuk melakukan hal ini!).

Dan kemudian saya tersadar bahwa Phoebe telah meletakkan salah satu gambar Buddha pada karpet. Ia mencoblos gambar itu dengan pensil. Berulang kali. Terganggu dengan suaranya, dengan satu mata saya memicingkan mata dengan ketus ke arahnya.

“Tutup matamu lagi Mama,” ia tertawa. Saya mengangkat alis saya… dan kemudian teringat sesuatu yang pernah dikatakan oleh bhiksu tersebut mengenai kemampuan untuk melihat dunia secara lebih positif jika saya dapat mengubah reaksi-reaksi saya terhadap perilaku orang lain. Saya melihat sekeliling ruangan. Sekarang anak-anak yang lain berlarian, melempar mainan, dan bermain gulat-gulatan di karpet. Seorang bayi menjerit. Semua itu lebih mengganggu dari pada perilaku putri saya. Namun tak satu pun yang mengganggu saya, karena saya tidak bertanggung jawab atas mereka.

Saya memutuskan bahwa jika saya dapat mengabaikan pencoblosan kertas tersebut, saya mungkin benar-benar telah belajar sesuatu. Dan, saat kami pergi, saya merasa benar-benar tidak menduga, seperti halnya saya sampai akhirnya Phoebe tertarik dengan pakaian bhiksu tersebut dan ini menunjukkan bahwa kita terlalu banyak berkutat pada penstereotipan gender.

Sekarang kami hadir setiap minggu. Meskipun pada saat pertengahan meditasi, bayi kecil saya membalikkan meja datar atau duduk di lutut saya untuk mencoba mengungkit mata saya agar terbuka, saya tetap merasakan hal tersebut memberikan kami berdua sebuah momen ketenangan dalam pekan kami yang sibuk.

Saya tidak menyatakan bahwa saya menjadi orang suci yang tersenyum sabar dalam waktu semalam. Tapi saya berpikir bahwa jika anda dapat melihat sekilas sebuah momen tenang yang damai dengan keberadaan bayi atau balita anda, anda benar-benar menuju pada sesuatu, baik sebagai orang tua maupun sebagai manusia.[Melissa McClements, The Guardian, 15/3/12, tr: Sum]