Arkeologi » Pakistan

Arkeolog Jepang Dokumentasikan Kultur Buddhis Pakistan

Senin, 12 Maret 2012

Seni dan Budaya BuddhisPakistan Observer,
Islamabad, Pakistan – Seorang profesor sekaligus arkeolog Jepang terkemuka, Prof. Koji Nishikawa telah menghabiskan lebih dari dua dekade untuk memunculkan sebuah publikasi yang sangat baik mengenai buku sejarah kebudayaan Pakistan yang luar biasa, berjudul “Ranigat, Situs Buddhis di Gandhara, Pakistan, Survei 1983-1992”.

Laporan yang komprehensif volume kedua tersebut, merupakan sebuah catatan fotografi yang baik dari ekskavasi (penggalian – ed) di Ranigat, salah satu situs Buddhis terbesar di Gandhara, menggambarkan sekitar 2000 foto-foto langka obyek-obyek penggalian termasuk patung, obyek-obyek batu, plesteran, terakota, relikui batu, dan lampu-lampu batu.

Bersama dengan fotografi-fotografi langka dan penelitian ilmiah, Laporan tersebut mengilustrasikan perjalanan 10 orang pakar dari Jepang yang didimpin oleh Prof. Nishikawa sebagai kepala Ekspedisi Ilmiah ke Gandhara, Universitas Kyoto, yang melakukan penggalian percontohan di situs Ranigat selama tahun 1982 dan 1992, dan menemukan banyak stupa, cetiya-cetiya dan vihara-vihara.

Reruntuhan Situs Buddhis Ranigat, Pakistan
Reruntuhan Situs Buddhis Ranigat, Pakistan (http://sites.google.com/site/gandhaha/)

Prof. Koji Nishikawa yang menyusun publikasi langka tersebut melakukan kunjungan singkat ke Pakistan untuk mempresentasikan laporannya kepada pemerintah. Didampingi oleh Dr. Engr. Masaya Masui, ia menjelaskan perjuangan dan pengalamannya selama 10 tahun proyek ekskavasi tersebut. “Saat kami memulai pekerjaan di Ranigat, warga setempat menolak untuk membantu karena mereka salah memahami proyek ekskavasi kami, tapi secara bertahap mereka menyadari pentingnya kontribusi kami,” katanya yang menambahkan bahwa sekitar 400 warga desa membantu proyek tersebut sejak tahun 1980-an.

“Ekskavasi tersebut telah selesai,” namun, Prof. Nishikawa menekankan bahwa misi yang sukar untuk menjaga pencapaian tersebut masih ada di depan. Pemerintah Pakistan harus mempertimbangkan mempromosikan pendidikan konservasi untuk melestarikan situs-situs arkeologi dan mendorong para pekerja yang telah terlibat di situs-situs sejarah. Para cendekiawan veteran Jepang yang sangat aktif dalam profesinya sejak tahun 1960-an tersebut mencatat bahwa “proyek-proyek arkeologi seperti itu dapat mempromosikan pertukaran kebudayaan antara Timur dan Barat.”

Wilayah Gandhara, berada di persimpangan dari berbagai perkembangan peradaban dari abad ke-2 S.M. sampai abad ke-6 M yang berdiri sebagi penghargaan jangka panjang bagi keanekaragaman budaya. Berlokasi di distrik Buner, 140 km dari Peshawar di sebuah area perbukitan, Ranigat merupakan kompleks vihara terbesar di Ghandara. Peninggalannya yang tersebar pada area seluas 700 x 1100 meter persegi diketahui setelah penemuan batu besar yang secara setempat diberi nama dengan nama “Ranigat” yang berarti Ratu Batu. Situs tersebut dinyatakan dilindungi berdasarkan Undang-Undang Purbakala Pakistan tahun 1975.

Untuk keberuntungan Pakistan dan upaya gigih dari para cendekiawan Jepang, struktur area pusat dari situs kuno Ranigat tersebut telah diketemukan dan pertama kali dipublikasikan dalam penemuan Jepang pada tahun 1993. Ekskavasi situs tersebut dimulai pada tahun 1983 berdasarkan pada hasil penelitian pada situs Buddhis di Gandhara oleh Misi Ilmiah Universitas Kyoto. Laporan tersebut juga menambahkan bahwa atas permintaan departemen Arkeologi Pakistan, peneliti Jepang tersebut melanjutkan restorasi dan perawatan sisa-sisa struktural bahkan setelah ekskavasi tersebut selesai. Dikarenakan minat Insitusi UNESCO/Japan, ekskavasi tambahan dan penelitian lebih lanjut terhadap Ranigat dapat dimungkinkan sejak tahun 1994.[ Sana Jamal, Pakistan Observer, 10/3/12, tr: Sum]

Kata kunci: