Amerika » Amerika Serikat » Amerika Utara » Meditasi » Penyembuhan dan Spiritualitas » Psikologi

Meditasi Buddhis Terbukti Kurangi Stres

Jumat, 22 Oktober 2010

MeditasiBhagavant.com,
Atlanta, Amerika Serikat – Para peneliti dari Universitas Emory, Atlanta, Amerika Serikat, mengatakan bahwa jenis meditasi Buddhis yang dikenal dengan istilah Lojong dalam bahasa Tibet, memiliki manfaat nyata dalam kesehatan bagi orang-orang masa sekarang.

Dalam studinya para peneliti tersebut mencari tahu bagaimana Lojong yang telah dipraktikkan di Tibet lebih dari 1.000 tahun itu membantu mengurangi stress dan juga meningkatkan respon sistem imun (kekebalan tubuh) terhadap stres, demikian yang dikatakan oleh Dr. Charles Raison, peneliti utama studi di Emory tersebut dan sekaligus pakar kesehatan mental CNNHealth.

Pada Senin (25/10), Dr. Charles berencana akan mempresentasikan hasil penelitian awal yang disebut dengan proyek CALM (Compassion and Attention Longitudinal Meditation Study) kepada Dalai Lama yang akan menghadiri Konferensi Meditasi Belas Kasih.

Dikutip oleh Bhagavant.com dari CNN, Dr. Charles mengatakan bahwa “Lojong” berarti “latihan pikiran”, dan praktik spesifik ini ditujukan untuk membuat seseorang lebih berbelas kasih kepada yang lain, termasuk para teman dan musuh. Ini adalah jenis meditasi yang utama yang dipraktikkan oleh Dalai Lama.

“Praktik meditasi ini mencoba untuk melatih orang untuk memikirkan dan menata ulang hubungan mereka dengan orang lain,” kata Dr. Charles. “Ini merupakan sebuah rangkaian tantangan visualisasi dan mental dimana anda menggunakan meditasi untuk menghadapi mengapa anda merasakan hal seperti itu terhadap orang lain.”

Dalam praktik meditasi tersebut para peserta diajarkan untuk melihat semua kesamaan semua orang sebagai makhluk yang berharga dan penting, dan kemudian berusaha untuk mengembangkan perasaan belas kasih yang kuat. Pertama mereka menguji belas kasih terhadap orang-orang yang telah mereka pedulikan, kemudian terhadap orang-orang yang mereka merasa netral, dan kemudian terakhir kepada para musuh.

“Dalam bentuknya yang paling murni, ini merupakan cara mempraktikkan, cara belajar untuk berterima kasih terhadap musuh-musuh anda karena mereka membantu mengajarkan kesabaran dan kepedulian,” demikian kata Dr. Charles.

Efek-efek yang dihasilkan dari praktik meditasi ini terhadap tubuh manusia telah diuji dengan berbagai metode oleh Dr. Charles dan Geshe Lobsang Tenzin, dosen di departemen agama Emory. Mereka memiliki hasil awal dari kelompok mahasiswa Universitas Emory dan juga studi terbaru terhadap para remaja dipanti asuhan di Georgia.

Di kedua kelompok tersebut, para peneliti menemukan bahwa semakin seseorang lebih banyak mempraktikkannya, semakin banyak manfaat pengurangan stres yang ia dapat . Nampaknya bahwa dengan mengikuti kelas selama enam atau delapan minggu tidaklah cukup, namun, mereka yang menunjukkan hasil yang terbaik adalah mereja yang juga telah bermeditasi pada waktu-waktu keseharian mereka.

Data yang ada menunjukkan bahwa anda bisa mendapatkan manfaat yang terkait dengan stres dengan bermeditasi tiga atau empat kali dalam seminggu, kata Dr. Charles Raison.

“Hal ini bukanlah sesuatu yang akan memerlukan sebuah perubahan menyeluruh dalam hidup. Anda tidak perlu harus berhenti menjalani kehidupan dan pergi ke biara,” katanya.

Sebuah ujian bagi kedua kelompok, para mahasiswa dan remaja di panti asuhan adalah menemukan sebuah tempat sunyi untuk bermeditasi di luar kelas. Secara umum, tempat yang terbaik untuk bermeditasi adalah tempat yang tenang dimana seseorang merasa damai yang mungkin ada di luar sana, kata Dr. Raison.

Selain mencari pada respon stres, para peneliti juga mencoba untuk mengukur apakah meditasi memiliki sebuah dampak nyata terhadap perilaku para peserta. Mereka melakukan sebuah tes kecil akan hal ini dengan memakaikan para peserta sebuah perekam aktivitas elektronik sebelum memulai dan setelah intervensi meditasi selesai.

Perekam tersebut digunakan untuk mengevaluasi efek dari studi intervensi pada perilaku sosial para peserta dengan secara berkala merekam potongan dan kepingan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari para peserta. Interaksi keseharian orang tersebut di catat.

Data awal menunjukkan bahwa memang meditasi tersebut membuat para peserta lebih berbelas kasih dalam interaksi mereka, tetapi studi lebih lanjut dibutuhkan untuk mengkonfirmasikan hal ini.

Pada masa mendatang, proyek ini akan juga mencari efek dari meditasi terhadap struktur otak, dengan mengambil gambar otak dari para peserta, kata Dr. Charles Raison.

Praktik latihan pikiran atau Lojong ini telah dikembangkan selama lebih dari 300 tahun dari periode tahun 900 dan 1200 Masehi sebagai bagian dari ajaran Buddhisme Mahayana.

Praktik meditasi ini terdapat dalam buku karya Atiśa Dipankara Shrijnana yaitu Bodhipathapradīpaṃ atau “Pelita Jalan Menuju Pencerahan”. Praktik meditasi ini berdasarkan pada hasil studi Atiśa setelah belajar dari guru beliau yaitu Dharmarakṣita (Suvarnadvipi Dharmakīrti), seorang Guru agama Buddha di Sumatera, Indonesia, yang hidup pada abad ke-10 Masehi.[Sum]

Kata kunci: , , , , , ,