Dee: Saya Tertarik Karena Ehipassiko

Dewi Lestari SimangunsongBhagavant.com
Jakarta, IndonesiaSaya tertarik karena Ehipassiko,” demikian kata Dee dalam Buddha Subhasita (Kabar Baik dari Buddha) sebuah acara diskusi Dhamma yang disiarkan langsung dari salah satu stasiun radio swasta di Jakarta, Sabtu 16 September 2006. Pernyataan Dee ini bukan sekonyong-konyong keluar dari mulutnya, tetapi merupakan sebuah jawaban atas pertanyaan awal yang diajukan oleh presenter acara dalam perbincangan tersebut tentang ketertarikan Dee terhadap Buddhisme.

Dee yang mememiliki nama asli Dewi Lestari Simangunsong ini mengisahkan kembali beberapa pengalamannya yang membuat ia tertarik dengan Buddhisme. Salah satu ketertarikannya akan Buddhisme adalah ajaran Ehipassiko yang berarti datang dan buktikan sendiri. Sebuah ajaran yang memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk membuktikan sendiri ajaran Buddha bukan sekedar mempercayainya secara membuta.

Selain itu Dee juga mengatakan ia dulunya seorang bhikkhuni yang tinggal di Jepang. Pengetahuannya akan kehidupan yang lampau ini tidak didapat dari dirinya sendiri tetapi dari beberapa orang yang mengatakan kepadanya.

Acara yang dipandu oleh Drs. Ponijan Liaw (Mr. Po) mulai pukul 20.00 sampai 21.00 WIB, kali ini memiliki tajuk: Kelahiran Kembali yang menampilkan dua tamu istimewa, yaitu Dee penulis buku best seller ”Supernova” sekaligus seorang celebrity dan Metta W seorang pemudi Buddhis yang memiliki kelebihan dalam melihat kelahiran masa lampau seseorang.

”Apakah saya dulunya seorang bhikkuni?” tanya Dee sedikit penasaran kepada Metta setelah ia diberi kesempatan untuk bertanya . Setelah beberapa saat (konsentrasi) Metta menjawab, ”Betul dulunya seorang bhikkhuni.

”Oh betul kalau begitu,” ujar Dee mengiyakan setelah membandingkan dengan pendapat orang lain akan dirinya dan perasaan spesial yang timbul ketika ia melihat vihara maupun melihat seorang bhikkhu.

Di tengah acara yang disiarkan oleh Radio Cakrawala 98.3 FM, Mr. Po menjelaskan kepada para pendengar radio bahwa topik kali ini adalah kelahiran kembali (rebirth) yang merupakan konsep ajaran agama Buddha dan bukan mengenai sesuatu yang kelenik. Ajaran mengenai kelahiran kembali dewasa ini bukan lagi sebuah konsep atau suatu kepercayaan semata tetapi sudah menjadi fakta dengan adanya banyak kasus dimana seseorang dapat mengingat kehidupan masa lalunya.

”Lalu apakah saya juga suka menulis pada kehidupan lampau?” kembali Dee bertanya.

”Iya betul waktu jadi bhikkhuni juga suka menulis,” jawab Metta. Hal ini membuat Dee memahami adanya keterkaitan antara kehidupan lampau dengan kehidupan sekarang khususnya kegemarannya akan menulis.

Dee juga menanyakan apakah ia juga pernah lahir di Mesir dan apakah ia juga pernah dilahirkan di Indonesia pada masa lampau. Dan Metta membenarkan itu semua.

Isteri dari Marcell Siahaan (Artis) dan ibu dari Keenan Avalokita Kirana ini memulai kiprahnya sebagai penyanyi dengan bergabung dalam Trio RSD (Rida Sita Dewi). Kemudian pada 16 Februari 2001 ia meluncurkan novel Supernova Satu: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang menjadi buku Best Seller. Novel ini laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar.

Kemudian Dee meneruskan kiprahnya dengan Novel Supernova 2.1 yang berjudul ”Akar” pada tahun 2002. Dalam riset yang dilakukannya ketika menulis buku ini semakin membuka wawasan Dewi terhadap Buddhisme. Di sinilah saat-saat dimana Dee ”jatuh cinta” kepada Buddhisme.

Pada tahun 2003, Supernova 2.2 yang berjudul Pertir pun diluncurkan. Dee kemudian meluncurkan kembali bukunya yang bertajuk ”Filosofi Kopi” pada tahun 2006. Dan di awal tahun 2006 inilah Dee dan Marcell menjadi sorotan masyarakat umum khususnya umat Buddha Indonesia karena keputusan yang tepat dan beraninya untuk mempelajari Buddhisme, meskipun tidak ayal lagi ada suara-suara sumbang beberapa orang terhadap keputusan mereka untuk menjadikan agama Buddha sebagai way of life.[Sum]